![]() |
Harga minyak mentah Brent naik 3 sen, atau 0,04%, menjadi US$74,80 per barel pada 13:52 GMT, setelah sebelumnya menembus US$75 per barel. |
PORTALBANUA.COM, AMERIKA - Harga minyak stabil di dekat level tertinggi lima pekan pada Selasa (1/4/2025), seiring ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memberlakukan tarif sekunder pada minyak mentah Rusia dan menyerang Iran mengimbangi kekhawatiran tentang dampak perang dagang terhadap pertumbuhan global.
Baca Juga: Kesadaran Warga Bantu Pemerintah Atasi Sampah di Banjarmasin
Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik 3 sen, atau 0,04%, menjadi US$74,80 per barel pada 13:52 GMT, setelah sebelumnya menembus US$75 per barel.
Sedangkan, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 4 sen, atau 0,06%, menjadi US$71,52.
Kontrak tersebut ditutup pada level tertinggi lima pekan sehari sebelumnya.
"Meski sanksi yang lebih ketat terhadap Iran, Venezuela, dan Rusia dapat membatasi pasokan global, tarif AS kemungkinan akan melemahkan permintaan energi global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya akan memengaruhi permintaan minyak dalam jangka panjang," ucap analis SEB Ole Hvalbye.
Baca Juga: Kesadaran Warga Bantu Pemerintah Atasi Sampah di Banjarmasin
"Akibatnya, bertaruh pada arah pasar yang jelas telah – dan masih – menjadi tantangan," tambahnya.
Pada Minggu, Trump mengatakan kepada NBC News bahwa ia sangat marah dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan akan memberlakukan tarif sekunder sebesar 25% hingga 50% pada pembeli minyak Rusia jika Moskow mencoba menghalangi upaya mengakhiri perang di Ukraina.
Tarif terhadap pembeli minyak Rusia – negara pengekspor minyak terbesar kedua di dunia – akan mengganggu pasokan global dan merugikan pelanggan terbesarnya, yaitu China dan India.
Trump juga mengancam Iran dengan tarif serupa serta serangan militer jika Teheran tidak mencapai kesepakatan dengan Gedung Putih terkait program nuklirnya.
Baca Juga: Kesadaran Warga Bantu Pemerintah Atasi Sampah di Banjarmasin
Jajak pendapat Reuters terhadap 49 ekonom dan analis pada Maret memperkirakan harga minyak akan tetap tertekan tahun ini akibat tarif AS dan perlambatan ekonomi di India serta China, sementara OPEC+ meningkatkan pasokan.
Pertumbuhan global yang lebih lambat dapat menekan permintaan bahan bakar, yang mungkin menyeimbangkan setiap pengurangan pasokan akibat ancaman Trump.(adh/tim)
Follow Google News Portal Banua dan Ikuti Berita Berita Lainnya