Muhibbin.net, – Pada tahun 1954, Pemerintahan Arab Saudi ingin memindah maqam Nabi Ibrahim AS. Protes datang dari salah satu ulama besar Mesir masa itu, Syekh Mutawalli As Sya’rawy.

Para Mufti Arab Saudi sebelumnya sudah sepakat dengan keputusan pemindahan Maqam tersebut. Sehingga, keputusan hanya menunggu eksekusi tim lapangan.

Syekh Sya’rawy saat itu menjabat sebagai dosen Kuliyah Syari’ah di Makkah Al-Mukarramah. Setelah mendengar kabar tersebut, beliau bergegas melakukan konfirmasi kepada para ulama Saudi.

Lima hari sebelum eksekusi, Syekh Sya’rawy menghubungi Syeikh Ibrahim Al-Noury dan Syeikh Ishaq Azzouz untuk menyampaikan alasan penolakannya pada sang raja.

Syekh Sya’rawy kemudian melayangkan protes melalui surat. Surat yang berjumlah 5 lembar tersebut berisi alasan fiqh dan sejarah yang merujuk pada Alqur’an dan Hadits.

Sehari kemudian, surat itu sampai  ke tangan Raja, Ibnu Saud. Setelah membaca dengan seksama, Raja kemudian menggelar pertemuan dengan para ulama Saudi. Keputusannya adalah membatalkan pemindahan maqam Nabi Ibrahim tersebut.

Buah dari upaya penolakan itu, Syekh Sya’rawy mendapat undangan dari sang Raja. Raja pun memberikan penghormatan kepada ulama tersebut dengan memberinya sejumlah hadiah.

Namun, bukan itu yang istimewa dari usaha beliau menolak pemindahan Maqam tersebut. Dua hari berselang, setelah pemindahan itu batal, Syekh Sya’rawi diberi anugerah oleh Allah SWT berupa pertemuan dengan Nabi Ibrahim AS. Pada pertemuan itu, Nabi Ibrahim mengucapkan terimakasih pada ulama tersebut.

sumber: Sindonews.com

Editor: Ibnu Syaifuddin

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *