muhibbin.online, – Habib Ali Masyhur bin Hafidz wafat pada Selasa 26 Mei 2020 kemarin. Ketua Mufti Tarim tersebut merupakan ulama yang berjasa besar dalam perkembangan keilmuan di tanah Hadramaut. Terlebih setelah setelah rezim sosial komunis berupaya membumi hangsukan Islam di Yaman pada 1387 H (1967 M).

Habib Ali Masyhur bin Hafidz lahir di Tarim pada 13 Ramadhan 1358 H (5 November 1939 M) dalam keluarga ahli ilmu. Beliau dibesarkan dan dididik ayahnya yang seorang ulama, Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz dan kakeknya yang juga ulama, Habib Salim bin Hafidz.

Selain kepada ayah dan kakeknya, Habib Masyhur juga belajar pada Habib Alwi bin Abdullah bin Shihab dan Habib Umar bin Alwi al-Kaff.

Pada usia 7 tahun, Habib Masyhur lulus dari sekolah tahfidzul Qur’an Abu Murayyam dan melanjutkan ke Ribath Tarim pada tahun 1365 H (1946 M). Di antara Guru-guru di sana adalah Syekh Mahfudz bin Utsman, Syekh Salim bin Sa’id Bukayyir, Syekh Abdullah Ba Zaghayfan, Syekh Tawfiq bin Faraj Aman, dan Syekh Shalih bin Awad Haddad.

Pada tahun 1375 H, Habib Masyhur diminta ayahnya untuk menemani sang kakek ( Habib Salim) di masa uzur. Sekitar dua tahun lamanya dia merawat sembari mengambil pengetahuan dan bimbingan rohani dari kakeknya tersebut.

Pada tahun 1377 H (1957 M.) Habib Masyhur dikirim Sang Ayah ke kota ash-Shihr untuk belajar dari Habib Abdullah bin Abdur Rahman Ibn Syekh Abu Bakar bin Salim. Di sana Habib masyhur belajar sekitar satu tahun lamanya.

Sepulang dari As Shihr, Habib Masyhur bergabung dengan al-Ma`had al-Fiqhi, di mana beliau belajar dan mengajar sampai tahun 1382 H (1962 M).

Habib Masyhur kemudian melanjutkan berdakwah ke lembah Daw’an, Selatan Hadhramaut. Selama 13 tahun di sana, Habib mendirikan banyak sekolah dan majelis ilmu.

Selama periode ini, Habib Masyhur sering mengunjungi Tarim di waktu luang dan melakukan perjalanan ke Hijaz pada tahun 1386 H (1966 M) untuk melakukan ibadah haji dan “mengunjungi” Rasulullah SAW.

Selama di dua kota suci, Habib Masyhur tak lupa mengambil ilmu dari ulama di sana, di antaranya Syekh Muhammad al-Arabi at-Tabbani, Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani, Sayyid Muhammad Amin Kuthbi, dan Syekh al Hasan Massyat.

Membangkitkan Gairah Ilmu di Hadramaut

Pada tahun 1387 H (1967 M), rezim sosialis komunis berkuasa di Yaman Selatan dan berusaha untuk membasmi ajaran Islam dari masyarakat Yaman. Para ulama dibunuh dan lembaga/sekolah diniyah keagamaan ditutup secara paksa.

Pada tahun 1392 H (1973 M), rezim komunis menculik dan membunuh Habib Muhammad bin Salim (ayah Habib Masyhur), yang mereka anggap sebagai ancaman terhadap kekuasaan rezim.

Pada tahun 1395 H (1975 M), Habib Masyhur pulang dari Daw’an dan kembali menetap di Tarim dan merupakan salah satu dari beberapa ulama yang dengan gigih tetap berjuang di kota Tarim, meskipun fakta bahwa penindasan rezim ini paling sadis dan parah. Habib Masyhur dengan beraninya menggantikan kedudukan ayahnya, baik untuk urusan pribadi maupun urusan publik, seperti berceramah dan mengisi majelis ilmu.

Pihak berwenang saat itu telah menghentikan banyak kegiatan keagamaan yang telah berjalan selama ratusan tahun di Tarim, namun Habib Masyhur secara bertahap membukanya kembali.

Sejak kembali ke Tarim, Habib Masyhur telah menjadi Imam Masjid Jami’. Beliau memainkan peran besar dalam melestarikan naskah penting yang telah diambil oleh kaum sosialis komunis dari sekolah-sekolah agama dan rumah ulama.

Habib Masyhur mengatur kembali naskah-naskah itu dan menempatkan mereka di perpustakaan Masjid Jami’, setelah masjid direnovasi.

Habib Masyhur juga memimpin tim penyusunan pembuatan pohon silsilah keluarga keturunan Baginda Nabi SAW di Hadhramaut. Pohon Nasab ini pertama kali disusun oleh Habib Abdur Rahman bin Muhammad Al Masyhur.

Setelah rezim sosialis komunis jatuh pada tahun 1410 H (1990 M) dan Yaman Utara serta Yaman Selatan bersatu kembali, dia ikut berperan mengambil bagian dalam pembukaan kembali Ribath Tarim dan juga mengajar di sana.

Habib Masyhur kemudian bekerja sama dengan saudaranya, Habib Umar bin Hafidz dalam membangun Dar al Musthafa, yang dibuka pada tahun 1414 H (1994 M). Habib Masyhur menjadi direktur dan guru mahasiswa tingkat lanjut.

Selain di Darul Musthofa, Habib Masyhur juga mengajar di Universitas Ahqaf Syari’ah Tinggi, selama empat tahun.

Sejak tahun 1421 H (2000 M) Habib Masyhur menjadi Ketua Dewan Fatwa Tarim (Mufti Tarim). Beliau juga memegang atau mengajar sejumlah mata pelajaran secara tetap di Masjid Jami’ Tarim dan Dar al-Faqih al-Muqaddam, dan banyak siswa yang datang untuk belajar di rumahnya.

Habib Masyhur memimpin beberapa majelis zikir mingguan dan memimpin kunjungan ziarah secara berkelompok ke pemakaman Zanbal pada hari Jumat. Beliau memiliki perhatian khusus untuk pendidikan perempuan dan memegang pelajaran mingguan khusus untuk mereka.

Habib Masyhur juga mengirimkan kelompok guru dan da’i ke desa-desa dan kota-kota terpencil untuk mengajar umat dan mengingatkan mereka tentang tugas mereka dalam Islam.

Ulama Rendah Hati

Meskipun pengetahuannya sangat luas, Habib Ali Masyhur sangat rendah hati dan sangat dicintai oleh murid-muridnya dan orang-orang Tarim. Dalam kuliah umum, ia lebih suka berbicara dalam dialek Tarim. Ini adalah cara pendahulunya, yang tidak tertarik pada retorika dan bahasa yang tinggi, melainkan bahasa yang mudah dipahami oleh semua masyarakat awam.

Meskipun usianya sudah lanjut, rutinitas dan semangatnya tetap seperti seorang pemuda. Selain menghormati komitmennya di bidang mengajar, Habib Masyhur selalu terlihat menghadiri pesta pernikahan dan memimpin salat jenazah dan doa pemakaman.

Baca juga: Setelah Sang Kakak, Habib Umar bin Hafidz Kembali Ditinggal Orang Terdekatnya

Habib Ali Masyhur bin Hafidz pergi dalam usia kurang lebih 81 tahun (dalam hitungan masehi).

sumber: ngopibarengid

Editor: Muhammad Bulkini

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *