muhibbin.online, – Di umur yang masih muda 20 tahunan, Syekh Sayyid Alwi bin Abbas Al Maliki sudah mengajar Mazhab Maliki di Masjidil Haram. Tentu bukan ulama sembarangan yang bisa menjadi guru di masa Mekkah dan Madinah menjadi pusat keilmuan.

Syekh Sayyid Alwi Al Maliki merupakan anak dari ulama besar Mekkah, yakni Syekh Sayyid Abbas Al Maliki. Beliau dilahirkan di Bab as-Salam Mekah pada 1325 H (1907 M). Riwayat lain menyebutkan beliau lahir pada tahun 1328 H.

Sejak kecil, Sayyid Alwi dimudahkan mendapatkan ilmu karena keluarga besarnya adalah para ahli ilmu. Ayahnya, Syekh Sayyid Abbas adalah seorang pengajar di Masjidil Haram. Padanyalah, Sayyid Alwi banyak belajar.

Di usia sekolah, Sayyid Alwi masuk Madrasah Alqur’an yang diasuh pamannya sendiri, Syekh Sayyid Hasan Al Maliki. Selesai di sana, beliau kemudian melanjutkan ke Madrasah Al Falah.

Selain menimba ilmu di madrasah, Sayyid Alwi juga menyempatkan belajar pada banyak ulama Mekkah pada waktu ashar, maghrib, dan isya.

Di antara  guru Sayyid Alwi Al Maliki adalah:

  1. Syekh Sayyid Abbas Al Maliki (Sang Ayah)
  2. Sayyid Marzuq (Abu Hasan)
  3. Syaikh Ahmad Nadhirin
  4. Sayyid Muhammad Ali bin Husain Al Maliki
  5. Sayyid Jamal Al Maliki
  6. Syekh Umar bin Hamdan Al Mahrasy
  7. Syekh Muhammad Habibullah Asy Syanqithi
  8. Syekh Isa Rawasy
  9. Syekh Abdus Syattar Ad Dahlawi, dan masih banyak lagi.

Sayyid Alwi tamat dari al-qismu al-‘ali di Madrasah Al Falah, pada 1347 H. Setelah itu beliau diangkat menjadi guru mazhab Maliki di Madrasah tersebut (1347-1390 H) dan diminta mengajar di Masjidil Haram pada fak yang sama.

Sejak saat itu, rutinitas Sayyid Alwi di tiap harinya adalah mengajar di Madrasah Al Falah, kemudian shalat dzuhur di Masjid Haram disambung mengajar di sana, lalu pulang ke rumahnya di Hayy an-Nuqa.

Setelah shalat Ashar, Sayyid Alwi menggelar majelis ilmu di rumahnya dengan mengajar balaghah dan mushthalah al-hadits. Menjelang maghrib, beliau berkemas untuk menunaikan ibadah shalat maghrib di Masjidil Haram yang dilanjutkan dengan mengajar. Khusus di hari Sabtu, Minggu, dan Senin, beliau mengajar Shahih Bukhari dan Muslim.

Adapun setelah Isya pada hari Rabu dan Kamis, Sayyid Alwi mengajar kitab Bulugh al-Maram dan Tafsir Ibni Katsir.

Rutinitas tersebut mengalami perubahan ketika tiba Ramadhan dan musim haji. Beliau akan mengajar “Ithaf Ahli al-Islam bi Hushushiyat Ramadhan” ketika bulan puasa dan mengajar manasik haji di musim haji. Rutinitas tersebut selalu berulang hingga akhir hayatnya.

Di sela mengajar, Sayyid Alwi juga menyempatkan diri menulis kitab. Di antara kitab yang ditulis beliau:

  1. Faidh al-Khair fi Ushul at-Tafsir
  2. Al-‘Iqdu al-Munazham fi Aqsam al-Wahyi
  3. Al-Manhal al-Lathif fi Bayan Ahkam al-Hadits adh-Dha’if
  4. Fathub al-Qarib al-Mujib ‘ala Tahdzib at-Targhib
  5. Al-Mawa’izh ad-Diniyah
  6. Ibanah al Ahkam Syarah Bulugh alMaram
  7. Nail al-Maram Syarah ‘Umdat al-Ahkam
  8. At-Ta’liq ‘ala Riyadh ash-Shalihin
  9. Nafahat al-Islam min Mukhadarati al-Baladi al-Haram
  10. Min Nafahat Ramadhan
  11. Diwan asy-Syi’r,
  12. Fatawa (dua jilid).

Selain disibukkan mengajar di madrasah, masjid, rumah, menulis kitab, menjadi imam, khatib, Sayyid Alwi juga terlibat dalam berbagai “organisasi” dan kegiatan, di antaranya:

  1. Anggota Lajnah at-Tanfidziyah li al-Isyraf untuk perluasan Masjidil Haram (1380 H)
  2. Anggota Tahdid Lajnah al-Haram
  3. Anggota Lajnah Isyraf wa al-Ikhtibar li al-Muthawwifin di Masjidil Haram
  4. Wakil Kepala Jama’ah Tahfizh Alqur’an di Mekah
  5. Anggota Lajnah al-Ishlah Bain an-Nas,
  6. Peserta Muktamar Islam ke-5 di Baghdad (1383 H)
  7. Pengisi kajian tetap tentang hadits di Shauti al-Islam Arab Saudi.

Setelah berkhidmat penuh pada ilmu berpuluh tahun lamannya, Sayyid Alwi Al Maliki wafat pada 1390 H dan dimakamkan di Ma’la, Mekkah.

Ayah, Anak, dan cucu dari Sayyid Alwi Al Maliki
Ayah, Anak, dan cucu dari Sayyid Alwi Al Maliki.(istimewa)

Kedudukannya sebagai ulama Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) kemudian diteruskan anaknya yang bernama Syekh Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki (Abuya). Dan setelah wafat Sang Anak, tradisi menjadi ulama besar kemudian diemban cucunya yang bernama Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alwi Al Maliki. Ketiganya (setelah Sayyid Abbas) menjadi rujukan ulama Aswaja dunia.

Sumber: Ensiklopedia Nahdlatul Ulama

Editor: Muhammad Bulkini

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *