Membaca riwayat Syekh Umar Hamdan kita dihadapkan pada samudera ilmu yang tak bertepi. Di mana pun beliau berada, aktivitasnya tak jauh dari ilmu. Di masjid, di madrasah, bahkan di rumah sekali pun. Beruntunglah orang yang pernah mencicipi “asinnya” keilmuan beliau. Dan bukan tidak mungkin, ilmu yang sedikit yang kita cicipi hari ini adalah berkat dari ilmunya beliau.

Syekh Umar Hamdan menghabiskan waktu dengan mengajar berbagai disiplin ilmu. Menariknya beliau membagi waktu mengajar di dua kota suci, Mekkah dan Madinah. Di musim panas beliau mengajar di Madinah, dengan mengadakan halaqah ilmiah di Masjid An-Nabawi, tidak jauh dari Raudhah. Halaqah-nya merupakan salah satu dari halaqah terbesar di masjid tersebut. Sedangkan di musim dingin, ia mengajar di Masjidil Haram, Makkah, dengan mengajar Al-Kutubus Sittah (enam kitab hadits induk).

Sejak tahun 1343 H/1924 M, beliau mengajar di Madrasah Ash-Shaulatiyah dan kemudian di Madrasah Al-Falah, yang dijalaninya selama 5 tahun.

Baca juga: Syekh Mulla Ramadhan Al Buthi (2), Desa Ahli Maksiat Berubah Jadi Desa Ahli Ibadat

Baca juga: Abah Guru Sekumpul Ceritakan Peran Penting Guru Seman di Muktamar NU

Bukan hanya di masjid dan di madrasah, Syekh Umar Hamdan memperlakukan rumahnya layaknya madrasah. Di tempat itu, beliau selalu mengadakan diskusi keilmuan. Para ulama pun kerap memenuhi kediamannya untuk berdiskusi tentang banyak hal dalam bidang ilmu, termasuk riwayat hidup para perawi hadits, perjalanan hidup, perjuangan ulama, dan karya-karya mereka.

Ketertarikannya dengan ilmu pun membuat Syekh Umar Hamdan senang mengoleksi kitab. Terutama kitab-kitab lama yang masih berupa tulisan tangan.

Kesibukannya mengajar di masjid, madrasah, dan rumah membuat beliau tak sempat menghasilkan karya, selain komentar-komentar singkat pada kitab-kitab yang dipelajari. Namun, beliau memiliki catatan kecil tentang guru-gurunya dan kitab-kitab yang dipelajarinya, yang dinamainya kitab Ithaf Dzawi Al-Irfan Bi Ba’dh Asanid Umar Hamdan.

Salah seorang muridnya, Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani yang dikenal sebagai Musnid Ad-Dunya, juga menyusun kitab tentang sanad-sanad gurunya ini, yakni Mathmah Al-Wujdan fi Asanid Asy Syekh Umar Hamdan dalam 3 jilid, yang kemudian ia ringkas menjadi satu jilid dengan judul kitab Ithaf Al Ikhwan bi Ikhtisar Mathmah Al Wujdan fi Asanid Asy Syekh Umar Hamdan.

Setelah puluhan tahun mengabdikan dirinya dalam dunia keilmuan, pada 9 Syawwal 1368H (4 Agustus 1949 M), Syekh Umar Hamdan menghadap ke hadhirat ALLAH SWT di Madinah dan dimakamkan di Baqi’. Semoga ALLAH mengangkatnya ke kedudukan beliau yang tinggi. Amin. Al Fatihah.

Baca juga: Mengenang Syekh Umar Hamdan (1), Berkaca Padanya, Santri Mana yang Tak Malu

Sumber: nahdlatululama.id

Editor: Muhammad Bulkini

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *