muhibbin.online, – Syekh Umar Hamdan atau  Syekh Umar Bin Hamdan Bin Umar Bin Hamdan bin Ahmad Al Mahrasi lahir di Jirbah, Tunisia, pada tahun 1292 H/1875 M. Beliau merupakan sosok penuntut ilmu sejati, yang berpetualang dari negeri ke negeri, dari Maroko, Mesir, Syria, Mekkah, Madinah hingga Hadramaut. Para ulama-ulama besar di negeri yang beliau kunjungi tak luput beliau singgahi.

Saat berusia 7 tahun, beliau dibawa Sang Ayah berangkat ke ibu kota negara yang terletak di Afrika Utara, yaitu kota Tunis. Dari sanalah beliau mulai akrab dengan berpindah dan menyesuaikan diri dengan orang baru.

Syekh Umar Hamdan muda tumbuh di keluarga ahli ilmu. Kecintaannya kepada ilmu dimulai sejak kecil, dengan mempelajari dan menghafal Alqur’an serta mendalami tajwidnya kepada Syekh Al Manbaji. Lalu beliau mempelajari dasar-dasar ilmu agama yang lain ke pada para ulama lainnya.

Pada tahun 1303 H/1886 M dalam usia 11 tahun, beliau berhijrah bersama Sang Ayah ke Makkah sekaligus menunaikan haji.

Tahun berikutnya, beliau diajak ayahnya  ke Madinah Al Munawwarah. Beliau merasa senang dan cocok tinggal di kota Rasulullah SAW tersebut. Di Masjid Nabawi, beliau menyempurnakan hafalan Alqur’annya kepada Syekh Ibrahim Ath Tharudi selama sekitar satu setengah tahun.

Beliau juga mempelajari dan menghafal kitab-kitab matan, di antaranya, kepada Al-‘Al-Lamah As-Sayyid Ahmad Bin Ismail Al-Barzanji (Mufti Syafi’i di Madinah). Pada ulama tersebut beliau belajar kitab Mughni al Labib, Al Fiyyah Ibnu Malik (keduanya dalam ilmu nahwu, ‘grammar’ bahasa Arab) Asy-Syifa’ (karya Qadhi ‘Iyadh), dan sebagian besar Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Sekitar 2 tahun Syekh Umar Hamdan selalu mengikuti pelajaran gurunya ini.

Selain kepada Syekh Sayyid Ahmad Al Barzanji, Syekh Umar Hamdan juga menuntut ilmu dari para tokoh ulama Madinah lainnya. Di antaranya,  Syekh Falih Bin Muhammad Azh Zhahiri Al Mahnawi (Mufti Syafi’i di Madinah), Syekh Muhammad Ali Bin Zhahir Al Watri Al Madani, Syekh Abdul Jalil Bin Abdus Salam Baradah, Sayyid Muhammad Bin Ja’far Al Kattani, dan Syekh Abdul Baqi Al Anshari.

Tidak hanya pada ulama setempat, setiap mendengar kedatangan seorang alim ke Madinah, beliau segera menjumpainya, dan meminta ijazah serta belajar kitab kepadanya.

Baca juga: Mengenang Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi (1), Sang ‘Habibin Nabi’  

Baca juga: Mengenang Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi (2), dari Penuturan Ulama Banjar

Ketika Syekh Al Lamah Muhammad Al Kattani datang ke Madinah misalnya, ia selalu menyertai dan mengambil ilmu darinya, meskipun saat itu beliau telah dikenal sebagai seorang ahli dalam fiqh Maliki dan ilmu nahwu.

Rasa haus akan ilmu membuatnya tidak hanya belajar kepada para ulama laki-laki, tapi juga kepada ulama perempuan. Di antaranya ia pernah mengambil ilmu hadits dari Sayyidah Amatullah Binti Abdul Ghani Ad Dahlawi. Demikian disebutkan oleh Syekh Umar Abdul Jabbar ketika menjelaskan riwayat hidup Syekh Umar Hamdan dalam kitabnya, Siyar Wa Tarajim, halaman 230-234.

Tidak puas hanya menimba ilmu di Madinah, beliau pun melakukan perjalanan ke Mesir dalam pengembaraan keilmuannya. Guru-gurunya di sana di antaranya; Syekh Abdurrahman Ulaisy, Syekh Muhammad Ibrahim As Saqa, Syekh Abdul Mu’thi As-Saqa, Syekh Muhammad Khaththab As Subki As Salafi, Syekh Ahmad Rafi’ Ath Thahawi, Syekh Abu Muhsin Ali Bin Muhammad Al Bablawi, Syekh Muhammad Asy Syafi’i Azh Zhawahari, Syekh ‘Abdurrahman Qara’ah (Mufti Mesir), Qadhi Syekh Muhammad Bakhit Al Muithi’i, dan Sayyid Khidhir Bin Husain At Tunisi.

Setelah itu,Syekh Umar Hamdan kembali ke negerinya (Tunisia) untuk mengambil ilmu dari para tokoh ulamanya yang terkenal di sana. Antara lain pada Syekhul Islam Abu Hajib dan Syekh AthThayyib An-Nufair. Beliau juga saling berbagai ilmu dengan para ulama di Universiti Zaitunah, di antaranya dengan Syekh Asyur, Syekh Muhammad Bin Mahmud, dan Syekh Bairam Ath Thayyib.

Pengembaraan ilmu Syekh Umar Hamdan tak berhenti sampai di situ, beliau melanjutkan pencarian ke kota Fez, Maghribi, Maroko. Di kota tua ini beliau berbagi ilmu antara lain dengan Sayyid Al Mahdi Al-Wazini. Beliau pun mengambil ilmu dari Sayyid Ahmad Bin Al Ma’mun Al Balghaitsi (wafat 1348H/1929M), pemimpin Asyraf (jamak kata syarif, keturunan Sayyidina Hasan, cucu Rasulullah SAW). Juga kepada Sayyid  Abdurrahman Bin Zainan, Sayyid Abdul Kabir Al Kattani dan saudaranya, Sayyid  Abdul Hayy Al Kattani.

Dari sana, beliau melanjutkan perjalanan ke Damsyik, Syria, untuk tujuan yang sama. Di antara para gurunya di sini ialah ahli hadits Sayyid Badruddin Al Hasani, juga Syekh Abu An Nadhr Al Khattib, Syekh Atha Al Kasam, dan Syekh Muhammad Abul Khair Abidin.

Kemudian beliau kembali ke Makkah untuk mengambil ilmu dari para ulama yang mengajar di Masjidil Haram. Beliau mengambil ilmu antara lain dari Sayyid Husain Al Habsyi (Mufti Syafi’i di Makkah, wafat tahun 1330H/1912M), Sayyid Bakri Syatha, dan Syekh Sulaiman Hasbullah.

Beliau juga berbagi ilmu dengan Sayyid Abbas Al Maliki (Kakek dari Sayyid Muhammad Bin Alwi Al Maliki Al Hasani), dan Syekh Muhammad  Ali Al-Maliki (tokoh besar Makkah yang pernah mengunjungi Indonesia). Dalam masa ini beliau mulai mengajar di Masjidil Haram dan Madrasah Al Falah.

Berguru pada puluhan ulama besar di berbagai negeri tak membuat dahaga keilmuannya hilang. Pada tahun 1343H (1924M), Syekh Umar Hamdan pergi ke Aden (Yaman Selatan). Di sana dengan perantara Sayyid Muhammad Zabarah, beliau mengambil ilmu dari Imam Yahya Hamiduddin (pemimpin Yaman yang sangat terkenal) dan Qadhi Husain Al Amri.

Syekh Umar Hamdan juga tidak melewatkan negeri habaib, Hadramaut. Di kota ini beliau berguru di antaranya pada Habib Abu Abdillah Muhammad Bin Salim As Siri, Habib Abdullah Bin Hadun Al-Muhdhar, Habib Musthafa Bin Ahmad Al Muhdhar, Habib Muhammad Bin Hadun As Segaf, Habib Syekh Bin Muhammad Al Habsyi, Habib Abdullah Bin Thohir Al Haddad (saudara Habib  Alwi Bin Thohir Al-Haddad, mufti Johor).

Beliau juga mengambil ilmu dari beberapa ulama perempuan, yakni Habibah Sidah Binti Habib  Abdullah Bin Husain Bin Thahir dan saudarinya yang lain, juga Habibah Khadijah Binti Ahmad Al Muhdhar.

Selain menimba ilmu, Syekh umar Hamdan juga mengajar di masjid-masjid Hadramaut. Sebab beliau sendiri sudah menjadi tokoh ulama yang disegani saat itu.

Baca juga: Mengenang Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi (3), Qutbul Gaus di Zamannya

Dari pengembaraan ilmu yang panjang tersebut, Syekh Umar Hamdan menyerap ilmu dari ratusan ulama di pusat-pusat ilmu di zaman itu. Kehausan dan kegigihannya dalam mencari ilmu adalah teladan yang sulit ditandingi. Pantaslah beliau menjadi ulama besar kemudian, yang menelurkan bibit-bibit ulama kenamaan setelahnya.

Membaca riwayat itu, santri mana yang tak malu.

Sumber: nahdlatululama.id

Editor: Muhammad Bulkini

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *