muhibbin.online, – Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Abah Guru Sekumpul pernah menyebut nama Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi dalam deretan nama aulia Allah yang berpangkat Qutbul Gaus, yakni pimpinan tertinggi aulia Allah di zamannya.

“Sayyid Amin Kutbi menjadi Qutbul Gaus sesudah Syekh Umar Hamdan. Insya Allah,” begitu perkataan Abah Guru Sekumpul dalam sebuah majelis di mushalla Ar Raudhah, Sekumpul, Martapura, Kalimantan Selatan.

Sebagaimana seorang berpangkat tinggi, maka segala keistimewaan pun banyak dimiliki Sayyid Amin Kutbi. Ketinggian ilmu dan ketajaman mata bathin beliau tak diragukan. Sebagaimana diceritakan Syaroni as-Samfury, Sayyid Amin menyampaikan nasihat kepada KH Idham Chalid, yang saat itu menjadi Mudir ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah atau Jatman.

“Idham, thariqah di Indonesia akan maju dan berkembang bila nanti dipimpin oleh seorang habib yang bernama Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya,” kata Sayyid Amin Kutbi.

Perkataan itu bukanlah perkataan yang mudah diucapkan orang awam. Bagaimana Sayid Amin Kutbi yang tak pernah ke Indonesia bisa tahu dengan jelas nama Habib Lutfhi dan kapasitas beliau serta bagaimana mungkin seorang yang biasa, bisa mengetahui masa depan Jamaah Ahli Thoriqoh di Indonesia. Tentulah pernyataan itu berdasar dari ketajaman mata hati sang aulia.

Sebagai seorang murid, KH Idham Chalid pun kemudian mencari Habib Luthfi bin Yahya. Dalam pertemuan itu, Kiai Idham dan habib Luthfi bersalaman dalam durasi yang panjang. Uniknya tidak perkataan di antara keduanya.

“Insya Allah, Pak Kiai, saya laksanakan,” ucap Habib Luthfi kemudian.

Ternyata, keduanya melakukan komunikasi batin. Kiai Idham menyampaikan, “Habib, nanti anda yang melanjutkan thariqah.”

Dan dijawab Habib Luthfi, “Insya Allah, Pak Kiai, saya laksanakan.”

Baca juga: Mengenang Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi (1), Sang ‘Habibin Nabi’  

Baca juga: Mengenang Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi (2), dari Penuturan Ulama Banjar

Pada sebuah forum di Muktamar Thariqah, KH Idham Chalid mengungkapkan kepada para kiai yang hadir bahwa JATMAN ini ibarat rumah sakit besar. Kiai Idham Chalid yang bagian membangun, sementara dokter spesialisnya adalah Habib Luthfi bin Yahya.

Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah atau Jatman, yang terkoneksi dengan jaringan ulama tasawuf lintas negara. Di bawah nahkoda kepemimpinan Habib Luhtfi, Jatman menjelma menjadi ruang komunikasi lintas aliran tasawuf di negeri ini serta menjembatani pelbagai aspirasi Muslim penganut tasawuf.

Jatman pertama kali menyelenggarakan muktamar pada 20 Rajab 1377 Hijriah, bertepatan dengan 10 Oktober 1957. Agenda Muktamar I JATMAN diselenggarakan di pesantren API Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah.

Pada muktamar pertama, diprakarsai oleh beberapa kiai hebat, yakni KH Chudlori, KH Dalhar, KH Siradj, serta Kiai Hamid Kajoran.

Pada awalnya, Kiai Muslih Abdurrahman Mranggen (Demak) mendapat amanah menjadi Rais ‘Aam.

Baca juga: Belajar Adab pada Syaikhona Kholil (1), Menjadi ‘Hamba’ Bagi Gurunya

Baca juga: Al Azhar Sempat akan Dibubarkan, Syekh Ali Jum’ah: Untung Ada Soekarno

Jatman sendiri didirikan oleh lima tokoh, yakni KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, KH Muslih Mranggen, KH Masykur, dan KH Idham Chalid.(habis)

Editor: Muhammad Bulkini

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *