muhibbin.online,- Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi banyak memiliki murid yang menjadi ulama besar. Satu di antaranya adalah Syekh Muhammad Syarwani Abdan Al Banjari (Bangil). Ulama dari keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari ini menjadi rujukan penuntut ilmu, bahkan di antaranya dari kalangan kiai.

Menurut KH Syaifuddin Zuhri, Guru Bangil –Begitu beliau dikenal- diperkenalkan Syekh Sayyid Amin Kutbi sebagai rujukan para ulama di Jawa Timur ketika ada masalah agama. Saat itu, KH Abdul Hamid Pasuruan memimpin rombongan kiai ke Tanah Suci. Rombongan ini mempertanyakan persoalan agama yang tidak bisa dipecahkan  kepada Syekh Sayyid Amin Kutbi.

Sayyid Amin Kutbi kemudian memberitahukan muridnya yang tinggal di Bangil Jawa Timur dengan sepucuk surat yang berisi agar menjawab persoalan yang dibawa rombongan kiai tersebut.

Sepulang dari tanah suci, para kiai ini kemudian menuju kediaman Guru Bangil untuk melaksanakan perintah Sayyid Amin Kutbi. Di kediaman sang ulama, mereka dibuat takjub karena ulama yang ditemui, sudah mengetahui akan adanya surat dari Sayyid Amin dan maksud kedatangan mereka. Bahkan Guru Bangil sudah mengasuh kitab yang akan menjadi jawaban dari persoalan tersebut, dan sudah membuka halaman tertentu di mana jawaban itu disebutkan.

Melihat kealiman Guru Bangil, para kiai itu kemudian meminta izin untuk mengaji kepada beliau. Sebagai orang pendatang, Guru Bangil tidak langsung mengiyakan, beliau meminta pendapat dari Kiai Hamid Pasuruan. Setelah disetujui Kiai Hamid, barulah Guru Bangil mengamininya.

Guru Bangil sendiri menurut penuturan Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani adalah khadam dari Sayyid Amin Kutbi ketika masih mengaji hingga mengajar di Masjidil Haram.

Semula, Guru Bangil tak mengetahui keutamaan dari Sayyid Amin Kutbi. Namun kemudian, beliau mendapat bocoran dari ulama di Tanah Suci, yakni Syekh Hasan Yamani yang mengatakan bahwa Sayyid Amin Kutbi adalah orang yang ahli dalam ilmu kebatinan. Mengetahui hal itu, barulah Guru Bangil menimba ilmu itu lebih giat. Istilah Abah Guru, “Disungkal sidin banar (Digali beliau lebih dalam).”

Baca juga: Dirindukan Ummul Mu’minin, Isyarat Kepulangan Abuya Tak Lagi Lama

Baca juga: Abah Guru Batalkan Hadiri ‘Sahur Bersama’ Demi Sang Ibu

Abah Guru mengenang, Sayyid Amin adalah seorang yang pemurah. Diceritakan, ketika menilai ujian para muridnya, semua diberi nilai sepuluh. “Ketika ditanya kenapa, beliau menjawab: Sifat pemurah itu bagus.”

Dalam ilmu kebatinan pun, Sayyid Amin tidak pelit. Hal itulah yang membuat Guru Bangil makin sayang dengan Sayyid Amin, dan menimba ilmu sebanyak yang beliau bisa lakukan.

Sebaliknya, Sayyid Amin juga memperhatikan dan menilai kealiman muridnya, Guru Bangil. Beliau mengistilahkan Guru Bangil dengan sebuah sumur kecil yang dalam.

“Syarwani sumurnya kecil, tapi sangat dalam,” begitu kata Abah Guru membahasakan pujian Sayyid Amin kepada Guru Bangil.

Abah Guru selain murid Guru Bangil juga sempat berguru kepada Sayyid Amin Kutbi di Mekkah. Lagi-lagi ada andil Guru Bangil pada pertemuan keduanya. Guru Bangil mengirimkan surat kepada Sayyid Amin yang menyebutkan ada sosok ulama muda (Abah Guru Sekumpul) yang ingin menimba ilmu kepadanya.

Setelah surat itu diterima Sayyid Amin, beliau pun mengajari Abah Guru Sekumpul dengan istilah “Kaji Belorok”, yakni menumpahkan ilmu sekaligus dalam jumlah besar. Pengajaran yang dilakukan di momen musim haji tersebut dilakukan di berbagai tempat. Bahkan Sayyid Amin kadang menjemput Abah Guru dengan mengendarai mobil, dan tak jarang pelajaran dilakukan di dalam mobil.

Abah Guru Sekumpul di antaranya sempat mengambil ijazah sanad Thoriqoh Sammaniyah dari jalur Sayyid Amin Kutbi yang mengambil dari Syekh Sayyid Husein Aidid, Syekh Sayyid Idrus Umar bin Idrus Al Habsyi, Syekh Muhammad bin Husein Al Idrus Al Habsyi, Syekh Abdul Baqi bin Muhammad Sholeh As Sya’abi Al Anshari Al Madani, Al Arif billah Sayid Muhammad bin Abdul Karim As Samman Al Madani Al Qadiri Al Hasani. Dan tentu saja, ijazah sanad keilmuan lainnya.

Baca juga: Mengenang Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi (1), Sang ‘Habibin Nabi’  

Baca juga: Mengenang Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi (3), Qutbul Gaus di Zamannya

Sayyid Amin Kutbi menjadi sosok spesial bagi Abah Guru Sekumpul. Beliau adalah salah satu ulama yang selalu dipuji Abah Guru Sekumpul dalam majelisnya. Bahkan dalam sebuah qasidah yang dilantunkan di majelis sholawat di Mushalla Ar Raudhah, Abah Guru menyebut Sayyid Amin dengan julukan “Habibin Nabi”.

“Sidnan Nabi, Sidnan Nabi, Sidnan Nabi

Sidnan Nabi, Sidnan Nabi, Sidnan Nabi

Sidnan Nabi, Sidnan Nabi, Sidnan Nabi

Sidi Muhammad Amin Kutbi Habibin Nabi.” (bersambung)

 

Editor: Muhammad Bulkini

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *