muhibbin.online, – Syaikhona Khalil Bangkalan dikenal sebagai guru para ulama besar, seorang inspirator berdirinya organisasi Islam Nahdlatul Ulama, hingga dipercaya memiliki banyak karomah. “Pencapaian” Syaikhona Khalil tersebut bukan saja dikarenakan lautan ilmu yang dimilikinya, tapi juga karena adabnya yang mempesona.

Menurut Ismael Amin Kholil dalam tulisannya “Adab Melambungkan Derajat Syaikhona Kholil Bangkalan”, kunci kemuliaan dari Syaikhona Kholil adalah adab. Sejak menuntut ilmu di Pasuruan, Syekhona Kholil sudah menunjukkan adab yang istimewa.

Diceritakan, setelah berjalan kaki sepanjang 7 kilometer dari Kebon Candi, Syekhona Kholil muda selalu mencopot sandalnya ketika memasuki kawasan pesantrennya, Pesantren Sidogiri. Apa yang dilakukan beliau adalah wujud takzim terhadap para guru-gurunya.

Baca juga: Abah Guru Batalkan Hadiri ‘Sahur Bersama’ Demi Sang Ibu

Baca juga: Belajar Adab dari Ketaatan Syekh Ramadhan Al Buthi pada Orangtuanya

Adab indah itu kembali dipraktikkan Syaikhona Kholil ketika Nyantri di Genteng Banyuwangi. Beliau berkhidmah penuh kepada sang guru, KH. Abdhul Bashir. Syaikhona Kholil muda selalu mengisi bak mandi, mencuci pakaian, mencuci piring dan memasak untuk Sang Guru.

Tidak hanya itu, Syaikhona Kholil juga bekerja sebagai pemetik buah kelapa dengan upah 3 sen setiap 80 pohon. Hasil jerih payah tersebut semuanya beliau serahkan kepada Sang Guru. Sementara Syaikhon Kholil makan dari sisa makan Sang Guru.

Hal yang serupa kembali ditunjukkan Syaikhona Kholil ketika menuntut ilmu di Mekkah. Ketika berguru pada Syekh Muhammad Arrahbini (Ulama tune netra), Syaikhona Kholil sengaja tidur di pintu musholla Sang Guru, dengan harapan Sang Guru menginjak beliau ketika memasuki pintu musholla. Dengan begitu Syaikhona terbangun dan menuntun Sang Guru ke mihrab (tempat imam).

Saat mengaji di Mekkah, Syaikhona menulis ulang kitab Alfiah untuk dijual. Per kitabnya dihargai 200 Riyal. Hasil dari penjualan kitab tersebut beliau serahkan kepada para guru. Sementara untuk makan sehari-sehari, Syaikhona memilih memungut kulit-kulit semangka. (Bersambung)

Baca juga: Belajar Adab pada Syaikhona Kholil (2), Tidak Buang Hajat di Tanah Suci

Editor: Muhammad Bulkini

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *