muhibbin.online, – Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki atau yang akrab disapa Abuya oleh santri dan pecintanya memiliki cara yang terbilang unik dalam mendidik putra dan putrinya. Beliau tidak memanjakan mereka dengan “kemudahan” di usia muda.

Sayyid Ahmad -putra pertama Abuya-, tidak dimanja sebagaimana umumnya anak seumuran beliau. Jika anak-anak di Arab Saudi berlibur ke luar negeri mencari tempat-tempat yang sejuk dan banyak hiburan, Sayyid Ahmad malah dikirim ke negara-negara miskin dan tandus seperti Muritania. Beliau disuruh belajar dan mengambil ijazah dengan ulama di sana.

Ulama Muritania yang didatangi ternyata tinggal di gurun pasir yang panas bersama para santri. Tempat tinggal mereka berupa kemah-kemah di sekitar tempat yang banyak rumputnya. Rumput-rumput itu dimaksudkan sebagai makanan kambing-kambing mereka. Perkemahan mereka berpindah tempat ketika persediaan rumput tersebut habis.

“Bayangkan saja, Sayyid Ahmad yang biasa tidur di kamar ber-AC kemudian tinggal di kemah yang panas di tengah gurun pasir, dengan makanan dan peralatan yang sangat minim,” ujar Admin Instagram Muhibbinabuya mengomentari ceritanya.

Sayyid Ahmad bin Muhammad Al Maliki
Putra Abuya Maliki yang kini menggantikannya sebagai Ulama Besar di Tanah Suci, Sayyid Ahmad bin Muhammad Al Maliki.(istimewa)

Abuya Sayyid Muhammad juga mendidik putra-putra beliau mandiri dan tidak mengandalkan orang tua dalam hal apapun, termasuk mengandalkan nasab.

Abuya pernah memarahi putra beliau yang bernama Sayyid Alawi karena masalah nasab. Ketika itu, Sayyid Alawi hendak pamit berangkat sekolah dasar dengan membawa buku catatan bertuliskan pemiliknya, “Assayyid Alawi”.

Melihat tulisan di sampul buku itu, Abuya langsung mencoret kalimat “Assayyid” dengan berkata, “Jangan gunakan gelar Sayyid sekarang, nanti saja kalau kamu sudah mengajar dan berdakwah.”

Abuya kemudian menelpon salah satu guru yang mengajar di sekolah Sayyid Alawi. Guru tersebut masih santri Abuya. Begitu telpon diangkat, Abuya langsung memarahinya.

“Mulai sekarang kamu jangan memanggil Alawi dengan Sayyid, panggil Alawi saja. Biar dia belajar dulu, dan belum waktunya memakai gelar Sayyid,…” ujar Abuya.

Abuya kemudian menyinggung seorang anak ulama besar yang ketika itu kurang beradab gara-gara sejak kecil dia diagung-agungkan oleh santri-santri ayahnya. Sehingga ia tidak pernah mengalami khidmah dan menjadi sombong. Abuya tidak mau putra-putra beliau seperti itu.

sumber: Ig Muhibbin Abuya

Editor: Muhammad Bulkini

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *