muhibbin.online, – Perhatikan adab ketika bertemu dengan seorang waliyullah. Sebab, seorang alim yang hafal Alquran pun pernah “kualat” karena kurang adab dengan seorang waliyullah.

Diriwayatkan, ada tiga orang alim yang ingin bertamu dengan seorang Waliyullah di zaman itu, Syekh Yusuf Al Hamadani namanya. Adapun tiga orang alim tersebut adalah Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Ibn Asrun, dan Ibn Saqa.

Dalam perjalanan, tiga orang alim ini saling menceritakan tujuannya menemui waliyullah tersebut. Ibn Saqa bercerita bahwa tujuan ia menemui Syekh Yusuf adalah untuk menjajaki dan memberi tahu pada masyarakat akan kebodohannya.

Adapun Ibn Asrun, bertamu untuk meminta doa agar diberi kekayaan karena dia tahu kemustajaban doa dari waliyullah tersebut.

Sementara Syekh Abdul Qadir mengatakan bahwa tujuannya bertamu untuk mencari berkah dan mendapatkan kebaikan dalam agama karena dekat dengan Syekh Yusuf.

Setelah ketiganya berada di depan Waliyullah tersebut, Syekh Yusuf sudah mengetahui maksud kedatangan mereka. Waliyullah tersebut kemudian berkata pada Ibn Saqa: Saya melihat perdebatan di antara dua matamu. Syekh pun menjawab semua pertanyaan Ibn Saqa.

Kemudian beliau menoleh pada Ibn Asrun, dan berkata: Akan datang harta yang engkau kehendaki.

Pada Syekh Abdul Qadir, Syekh Yusuf berkata: Telapak kakimu di atas leher para wali masamu.

Waktu berlalu. Perbuatan tidak pantas yang dilakukan Ibn Saqa pada Sang Waliyullah ternyata berbuntut di kemudian hari. Ibn Saqa -yang  seorang penghafal Qur’an- suatu ketika dijadikan utusan khalifah ke negeri romawi. Ketika di sana, dia menyukai putri raja, akan tetapi perempuan itu tidak mau dikawini kecuali dia masuk kristen. Dia pun masuk kristen. Naudzubillah.

Kehidupan Ibn Saqa bukan tambah meningkat, dia terpuruk, bahkan sakit-sakitan di gubuk reyot. Seseorang melihatnya sedang memegang kipas di gubuk itu ketika sedang memburu lalat dari mukanya.

Dia ditanya tentang hafalan qur’annya. Ibn Saqa menjawab bahwa semuanya telah hilang kecuali ayat yang artinya, “Seringkali orang-orang kafir senang kalau mereka menjadi orang-orang Islam (ketika di dunia).”

(Berbagai sumber)

Editor: Muhammad Bulkini

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *