muhibbin.online, – Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki (Abuya) biasanya meminta santrinya untuk memjiat beliau di waktu senggang, terutama di malam hari. Begitulah cara Abuya melatih keikhlasan dan kesabaran murid-muridnya.

Pada malam itu, santri yang bertugas memijat bernama Zubair. Dengan perlahan dia memijat Abuya, hingga beliau tertidur. Zubair terus melanjutkan pijatannya hingga pukul 02.00 dinihari.

Di waktu yang semestinya orang banyak terlelap, Abu bangun dari tidurnya dan bersimpuh seperti duduk seorang santri di hadapan kiainya. Beliau duduk sambil menunduk dan meletakkan kedua tangannya diatas paha.

Kemudian Abuya berujar, “Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh…, thoyyib, thoyyib, thoyyib.”

Zubair yang menyaksikan kejadian itu merasa ada yang ganjil. Dia tak mengerti apa yang sedang terjadi pada diri Abuya.

Sejenak kemudian, Abuya menyuruh Zubair memanggil santri yang biasa menjadi sopir, Ali Al Habsyi. Zubair pun bergegas menemui santri yang dimaksud, dan kembali dengannya.

“Kamu tahu, hai Zubair, siapa yang tadi datang?” kata Abuya.

“Wallahu a’lam, aku tidak tahu Abuya,” jawab Zubair.

Beliau berkata, “Beliau adalah kakekku Rasulullah SAW. Beliau menyuruhku datang ke Raudhoh Muthahharoh untuk menemuinya.”

Baca juga: Tak Bisa Sembunyi, Keharuman Pribadi Mbah Mangli Tercium Abuya Maliki

Baca juga: Belajar Adab dari Ketaatan Syekh Ramadhan Al Buthi pada Orangtuanya

Setelah berkemas sebentar, Abuya segera berangkat menuju Masjid Nabawi. Zubair turut serta. Ketika Abuya berada di Raudhoh, Zubair menyaksikan pemandangan seperti sebelumnya, Abuya kembali bertemu lagi dengan Rasulullah SAW dalam keadaan yaqdzatan (sadar), yang merupakan tanda kemuliaan seseorang di sisi Rasulullah SAW.

Subhanallah!

Sumber: IG Muhibbin Abuya

Editor: Muhammad Bulkini

 

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *