muhibbin.online, – Ketaatan Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul) pada sang ibu sudah menjadi buah bibir di masyarakat Banjar. Ulama tersebut sangat mengutamakan Sang Ibu lebih dari yang lain.

Diceritakan Haji Abdul Ghani -salah seorang yang sempat ikut membantu di bagian dapur Abah Guru Sekumpul-, suatu ketika di bulan Ramadhan Abah Guru akan menghadiri undangan dari pejabat penting.

“Kalau tidak khilaf sahur bersama,” ucap Haji Ghani.

Abah Guru Sekumpul keluar dari kamar dengan pakaian bagus, lengkap dengan sorban dan imamah. Saat ingin berangkat, beliau kemudian menemui Sang Ibu untuk meminta izin.

“Kalau kamu tidak ada, dengan siapa aku makan? Aku mungkin tidak makan kalau tidat ada kamu,” kira-kira begitu ungkapan Sang Ibu.

Mendengar penuturan itu, Abah Guru tidak mengemukakan alasan, apalagi protes. Beliau kemudian membatalkan hadir di tempat pejabat tersebut, dan lebih memilih menemani Sang Ibu bersantap sahur di rumah.

Baca juga: Tidak Semua Wali Mudah Diketahui (3), Ketika Seorang Wali Menyoroti Kewalian Abah Guru Sekumpul

Baca juga: Akhlak Abah Guru dan Habib Hasan Syathiri Ketika Dihadapkan dengan Orang ‘Maksiat’

Baca Juga: Dini Hari, Ketika Abuya Maliki Minta Diantar ke Makam Rasulullah SAW

Penulis: Muhammad Bulkini

 

 

 

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *