Ketajaman batin adalah yang lumrah dimiliki para orang shaleh, KH Ahmad Zuhdiannoor atau Guru Zuhdi pun demikian.

Peristiwa ini mungkin terjadi pada tahun 2008-2009 atau sebelumnya. Saat itu, teman saya Mursili mengajak untuk menghadiri majelis KH Ahmad Zuhdiannoor di Komplek Pondok Indah, Teluk Dalam Banjarmasin pada Senin malam (sebelum pindah ke Rabu malam).

Mursili bercerita, sosok Abah Guru Zuhdi sangat meneladani sikap dan akhlak Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul). Penulis semula hanya menduga ulama tersebut hanya meniru tampilan Abah Guru, sebab nama Abah Guru Zuhdi tak terkenal di majelis Sekumpul, dan tak pernah ada di deretan ulama yang duduk di lingkaran Abah Guru Sekumpul.

Bukan hanya penulis yang menduga demikian, teman kami lainnya pun berpandangan sama. Khairullah namanya, juga berasal dari Martapura.

Untuk membuktikannya, Mursili pun mengajak kami hadir di majelis yang diasuh Abah Guru Zuhdi tersebut dengan embel-embel tertentu, ditraktir makan.

Berangkatlah kami dari Asrama Mahasiswa Kabupaten Banjar di jalan Citrawati Komplek Pandu Banjarmasin. Sesampainya di majelis, kami menaiki rumah di seberang mushalla Darul Iman. Rumah tersebut pada saat itu masih berbahan kayu, sekarang sudah berbahan beton.

Majelis masih belum begitu ramai. Tempat jemaah pun masih sempit, hanya memuat sedikit orang.

Menariknya pada majelis malam itu, Abah Guru Zuhdi tiba-tiba menyoroti niat hadir ke majelis. “Ada yang karena ditraktir kawan makan,” ucap guru, “Makan nasi goreng.”

Glek. Mendengar ungkapan itu saya tertunduk, sambil tersenyum saya mencolek kaki teman di samping.

Baca juga: Saat-saat Terakhir Abah Guru Zuhdi

Bacajuga: Mengenang Canda Guru, Anggota BPK ‘Berplat 01’

Guru Zuhdi benar, meskipun tidak secara langsung menyebut kami pelakunya, tapi rasanya tidak ada persekongkolan yang sama di malam itu. Hanya kami bertiga yang melakukannya.

Ajaibnya, Mursili sebelumnya tidak menyebut akan menraktir kami dengan makan nasi goreng. Dia hanya menyebut akan menraktir makan. Tapi sepulang dari majelis, Mursili akhirnya men-traktir kami makan nasi goreng.

Ampun maaf bila ada salah khilaf, sebab peristiwa ini terjadi sudah begitu lama, yakni sebelum penulis menjadi wartawan di tahun 2009.

Baca juga: Mengenang Pertemuan dengan Guru Zuhdi dan Kepergian Beliau yang Terlalu Pagi

Penulis: Ibnu Syaifuddin

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *