muhibbin.online, – Syekh Ibrahim bin Adham adalah seorang sufi yang berasal dari Balkh, sekarang menjadi bagian wilayah Afghanistan. Beliau pernah dinilai gila kerana melakukan perjalanan menuju Tanah Suci hanya dengan berjalan kaki.

Ketika melakukan perjalanan ke Tanah Suci, beliau bertemu dengan seorang laki-laki Badui yang sedang mengendarai unta.

“Wahai bapak tua, hendak ke mana Anda?” kata orang itu menyapa.

Syekh Ibrahim menjawab, “Saya hendak pergi ke Baitul Haram.”

Orang itu terkejut dan berkomentar, “Anda ini seperti orang gila. Saya tidak melihat Anda membawa kendaraan dan perbekalan selama di perjalanan?”

Syekh Ibrahim kembali berkata, “Saya sebenarnya membawa kendaraan, namun Anda tidak melihat kendaraan saya.”

Lantas Arab Badui terheran dan bingung, ia kembali bertanya, “Apa kendaraan Anda?”

“Jika saya mendapat musibah, maka saya mengendarai kendaraan sabar. Jika saya memperoleh nikmat, maka saya akan mengendarai kendaraan syukur. Jika Allah memutuskan suatu perkara pada diri saya, maka saya akan mengendarai kendaraan ridha. Jika nyawa meninggalkan saya, maka saya akan mengetahui bahwa sisa umur lebih sedikit dari usia yang telah berlalu.”

Orang Arab Badui itupun kagum dengan jawaban yang diberikan Syekh Ibrahim. Lantas ia mendoakan, “Semoga Anda memperoleh kebahagiaan. Oleh karena itu Anda lebih layak mengendarai kendaraan ini, sedangkan saya berjalan kaki.”

Begitulah serpihan cerita dari seorang ulama sufi terkemuka, Syekh Ibrahim bin Adham. Sosok ulama ini sebenarnya adalah seorang pekerja keras. Beliau lebih senang membanting tulang untuk keperluannya sehari-hari, dari pada meminta belas kasihan orang lain. Dan pada cerita perjalanan panjangnya menuju Tanah Suci tersebut, kita melihat kegigihan, keyakinan, dan kelihaian sang ulama dalam menunggangi “kendaraan batin”.

Sumber : 150 Kisah Orang Saleh Jilid 2 karya Manshur Abdul Hakim.

Penulis: Anwar

Editor: Ibnu Syaifuddin

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *