Oleh: Muhammad Bulkini

Rasanya baru Sabtu kemarin, si bebal ini mengetuk pintu rumah pian, di jalan samping Masjid Jami, Sungai Jingah, Banjarmasin. Meminta penjelasan tentang “Wasilah” untuk mengisi halaman Koran Media Kalimantan. Tapi setelah ulun hitung waktu, sudah 10 tahun itu berlalu (2009).

Pian bertanya nama, alamat, dan kuliah di mana? Ulun menjawab semua pertanyaan itu sambil menundukkan kepala. Pakaian ulun tak beradab mestinya untuk berhadapan ulama sebasar pian; memakai celana levis, baju kemeja, dan jaket. Namun apa mau dikata, itu pun semuanya meminjam milik teman di Asrama Martapura.

Ulun yakin pian tak peduli semua itu. Dari kedatangan ulun, pian menyambut dengan santai, dengan sarung, kaos oblong putih, dan kopiah berwarna senada. Pian mempersilakan duduk, kemudian mengambilkan segelas air.

Ulun ingat ucapan Abah Guru Sekumpul, “Apabila bertamu ke ulama, jangan tangan sepuluh.” Waktu itu tak sampai sepuluh ribu di kantong ulun. Ingin memberikannya, tapi  malu rasanya.

Pian memanjatkan doa dan meniupkannya di gelas air itu, kemudian menyerahkannya pada ulun. Agak lama doa itu, mungkin karena begitu bebal akal dan begitu banyaknya dosa ulun.

Setelah menyerahkan gelas itu, pian berujar,”Hadir ke majelisku, catat apa yang kusampaikan. Hati-hati membahasakan ke bahasa Indonesia. Karena aku banyak bahasa Banjar.”

Begitu pesan pian waktu itu. Ulun pun menjawab, “Enggih, doakan ulun.”

Ulun pun berpamitan.

Beberapa tahun berselang, di ulang tahun Koran, lagi-lagi hari Sabtu, ulun kembali datang  bertamu ke rumah pian. Kali ini dengan petinggi kantor.

Pian kembali mengulang kalimat yang sama, ”Hadir ke majelisku, catat apa yang kusampaikan. Hati-hati membahasakan ke bahasa Indonesia. Karena aku banyak bahasa Banjar.”

Dan hari ini, Sabtu -yang entah ke berapa-, pian pergi dalam diam, di 9 Ramadhan dalam usia kurang lebih 48 tahun. Saat dunia tak menginginkan berkumpul dan berjabat tangan.

Selamat jalan Guru. Dari kejauhan ulun lambaikan tangan. Semoga segala balasan kebaikan dilimpahkan kepada pian. Titip rindu untuk orang-orang di samping, pada sosok-sosok yang selalu membimbing.

 

Banjarmasin, 2 Mei 2009

(KH Ahmad Zuhdiannoor lahir di Alabio pada Kamis 10 februari 1972 M bertepatan dengan 24 Dzulhijjah 1391 H. Wafat pada 2 Mei 2020 bertepatan 9 Ramadhan 1441 Hijriyah)

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *