Kelembutan akhlak dan ketulusan dakwah dari Syekh Mulla perlahan membuat desa yang dulu dicap sebagai desa ahli maksiat berubah menjadi desa ahli ibadat. Tetangga yang semula memusuhinya, telah bertobat, dan berulang kali melakukan permohonan maaf.

Syekh Muhammad Ramadhan Al Buthi dalam kitabnya “Hadza Walidi” menceritakan, pada suatu hari ayahnya –Syekh Mulla- berangkat haji untuk kedua kalinya. Seperti biasa dia berpesan kepada keluarganya agar tidak membuat hiasan apapun di rumah untuk menyambut kedatangannya.

Setelah musim haji berlalu, warga desa mendapat kabar bahwa Syekh Mulla akan datang beberapa hari lagi. Tetangganya yang baru bertobat itu bersikeras membuat hiasan istimewa di depan rumah Syekh Mulla.

Pihak keluarga Syekh Mulla mengingatkan kepada orang itu agar tidak membuat hiasan, sebab Syekh Mulla sudah memperingatkan untuk tidak melakukannya. Namun nasehat itu tidak dipedulikan, dia bahkan mengajak anak buahnya untuk membantunya membuat hiasan itu.

Orang itu menghiasi pintu rumah Syekh Mulla dengan dedaunan dan ranting-ranting yang indah. Dia juga meletakkan beberapa permadani cantik yang didatangkan dari rumahnya dan rumah-rumah anak buahnya. Ia begitu serius membuat hiasan itu sampai-sampai ia dan anak buahnya tidak beranjak dari pintu rumah Syekh Mulla, mulai siang sampai malam hari.

Ketika Syekh Mulla datang, orang itu berada di barisan paling depan menyambutnya. Saat Syekh Mulla melihat hiasan di pintu rumah, lekas saja pihak keluarga menceritakan kepadanya apa yang sebenarnya terjadi. Syekh terharu lantas mulai berdoa dan memuji Allah.

“Mungkin saja beliau menganggap hiasan tersebut sebagai pengecualian dan menerimanya sebagai permintaan maaf dari tetangga kami atas batu-batu yang pernah ia lemparkan ke pintu rumah kami pada suatu malam yang lalu,” ujar Syekh Muhammad Ramadhan Al Buthi mengomentari cerita itu.

***

Desa “Jadidah” yang dulu markas para dan bajingan menjadi salah satu desa dengan nuansa Islami yang sangat kental. Ketika pertama kali Syekh Mulla berdakwah di sana, jemaah masjid masih sekitar 10 orang. Pada shalat dzuhur masjid bahkan kosong sama sekali, sekarang masjid tersebut sudah berkali-kali melakukan perluasan karena tidak sanggup menampung banyaknya jemaah.

Syekh Muhammad Ramadhan Al Buthi mengungkapkan, “Kunci kesuksesan ayahku dalam dakwahnya adalah tangisan dan doa-doa yang ia panjatkan di sepertiga malam. Andai saja para pendidik dan pendakwah tahu betapa ampuhnya ‘senjata’ ini di dalam memperbaiki kerusakan dan penyimpangan.”

Baca juga: Syekh Mulla Ramadhan Al Buthi (1), Imam Masjid di Desa Ahli Maksiat

Sumber: Kisah Ayah Syaikh Buthi dan Tetangganya yang Pemabuk; Gus Ismael Amin Kholil.

Editor: Muhammad Bulkini

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *