Mendapat amanah menjadi Imam Masjid di desa yang dikenal angker, bukanlah pekerjaan yang mudah. Beban itu disandang Syekh Mulla Ramadhan -ayah dari ulama ternama Syekh Muhammad Ramadhan Al Buthi- pada tahun 1941. Sejak memikul jabatan itu, ujian silih berganti menghampirinya. Namun keindahan akhlak Sang Ulama perlahan mengubah tempat gelap itu memancarkan cahaya.

Desa angker itu bernama Jadidah, terletak di daerah Damaskus, Syria (Suriah). Pada masa itu, desa dihuni banyak penjahat dan bajingan.

Dalam kitab “Hadza Walidi”, Syekh Ramadhan Al Buthi menceritakan, keluarganya pernah memiliki seorang tetangga ahli maksiat. Rumahnya bersebelahan persis dengan rumah keluarganya. Orang tersebut menurut Syekh Ramadhan, adalah seorang pemabuk, suka berkata kotor, dan pezina.

Suatu waktu, orang itu mendatangkan pelacur ke rumahnya. Dia kemudian mengundang teman-temannya untuk mencicipi kemaksiatan tersebut. Setiap malamnya, rumah orang itu ramai dengan suara teriakan, musik, gitar, seruling, dan lainnya.

Melihat hal itu, Syekh Mulla pun kemudian berbicara kepada orang terdekat dari tetangganya tersebut, karena mungkin saja mereka bisa menasehatinya. Syekh Mulla juga mendatangi para pejabat desa untuk tujuan serupa.

Usaha itu tidak membuahkan hasil, justru orang tersebut kemudian mengetahui Syekh Mulla berupaya mencegahnya dari pekerjaan yang dilakukan selama ini. Orang itu marah besar. Pada saat dini hari, sebelum adzan shubuh, dalam keadaan mabuk dia melempari pintu rumah Syekh Mulla dengan batu-batu besar. Dia  meneriakkan Semua bentuk cacian dan sumpah serapah.

Tidak sampai di situ, dia juga melempari jamaah shalat shubuh dari balik jendela masjid.

“Ketika aku sudah putus asa dari segala jalan dan cara, aku bertawajjuh kepada Allah dan berdoa agar Allah memberikannya hidayah dan menjadikannya orang yang baik. Hal itu rutin aku lakukan di sepertiga malam. Seringkali aku memanjangkan sujudku dan bermunajat kepada Allah demi hidayah dan kebaikan orang itu,” ujar Syekh Mulla Ramadhan, seperti yang diceritakan Syekh Ramadhan Al Buthi.

Tak disangka. Beberapa hari kemudian tetangga Syekh Mulla tersebut mengeluarkan pelacur dari rumahnya. Dia kemudian berhenti mabuk-mabukan. Dan pada suatu hari, untuk pertama kalinya dia terlihat di masjid, dengan penuh rasa rendah diri dia mendatangi Syekh Mulla. Dia menjabat tangan Sang Ulama dan mencium kedua tangannya. Sejak saat itu, perubahan total terjadi pada dirinya. Dia berhenti melakukan perbuatan maksiat dan menjadi muslim yang gemar ibadat.

Baca juga: Syekh Mulla Ramadhan Al Buthi (2), Desa Ahli Maksiat Berubah Jadi Desa Ahli Ibadat

Sumber: Kisah Ayah Syaikh Buthi dan Tetangganya yang Pemabuk, Gus Ismael Amin Kholil.

Editor: Muhammad Bulkini

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *