Oleh: Hikmah NI

Sayidina Abu Bakar As Shiddiq RA disebut sebaik-baik manusia setelah Nabi dan Rasul. Dialah sahabat yang diperkenankan mengimami shalat ketika Rasulullah masih hidup. Di masa kepemimpinannya, dia dikenal dengan sosok yang demokratis, terlatih, dan berpengalaman.

Ada banyak keutamaan mertua Rasulullah SAW ini. Berikut 4 keutamaan di antaranya:

Kemurnian Jiwa

Seperti seorang Ayah pada umumnya, Abu Quhafah  menginginkan anaknya menjadi penurut sekaligus penerus tradisi yang dilakukan keluarganya, terutama tentang keyakinan. Namun, Abu Quhafah merasa khawatir anaknya (Abdullah) tidak menurut padanya.

“Ini adalah tuhan-tuhanmu, anakku. Tuhan-tuhan kita semua,” begitu semangat dan takzim Abu Quhafah menjelaskan tentang tuhan-tuhan berhala yang disembahnya dan juga harapan besarnya agar anaknya juga melakukan hal serupa.

Alih-alih mengikuti ayahnya, Abdullah berkata, “Wahai berhala, aku lapar, beri aku makanan.”

“Berhala kalau kamu tidak punya makanan, beri aku pakaian saja.”

Merasa tidak ada jawaban apapun. Abdullah meyakini bahwa berhala-berhala itu bukanlah Tuhan, namun hanya batu-batu biasa, yang tidak memberikan manfaat apa-apa untuk manusia.

Dialah Abdullah atau yang dikenal Abu Bakar. Sejak kecil dia memiliki kesamaan dengan Rasulullah, dalam hal menolak penyembahan terhadap berhala-berhala. Kemurnian jiwanya tidak diragukan. Maka, tidaklah heran jika saat Rasulullah SAW menyampaikan Islam kepada Abu Bakar, dia segera menerima tanpa ragu, tanpa banyak pertanyaan sebelumnya. Dia sangat meyakini akan agama yang meng-Esa-kan Allah, yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Ash Shiddiq

Siapa yang tidak mengetahui tentang keajaiban yang dialami oleh Rasulullah SAW pada tahun ke-10 kenabian. Proses di mana menghasilkan ketetapan shalat 5 waktu bagi umat Islam. Yaitu terjadinya peristiwa Isra Mi’raj (Perjalananan Rasulullah dari Mekah ke Palestina, dan naik ke Sidratul muntaha).

Hal ini tentu terdengar mustahil, mengingat masa itu transportasi masih menggunakan binatang. Dengan demikian, mestinya Mekah-Palestina ditempuh dengan waktu yang lama, perjalanan ke langit ditempuh hanya dalam satu malam. Namun bagi orang-orang yang beriman, yang meyakini kenabian Rasulullah dan tentu juga meyakini kekuasaan Allah, ini adalah nyata.

Sepulang dari perjalanan tersebut, Rasulullah mengabarkan kepada para sahabat dan orang-orang Mekah akan peristiwa menakjubkan tersebut. Namun, pemimpin-pemimpin Mekah justru tidak mempercayai dan malah menjadikan hal tersebut bahan olok-olokan.

Ketika kabar itu disampaikan pada Sayidina Abu Bakar. “Jika dia berkata seperti itu maka itu kebenaran yang mutlak,” ungkapnya saat menjawab pertanyaan orang-orang yang tidak mempercayai Rasulullah SAW. Sejak saat itu, Abu Bakar dikenal sebagai “Ash-Shiddiq” yang artinya “Orang yang membenarkan”.

Aksi membenarkan Rasulullah SAW tersebut bukan hanya sekali saja. Pada perjanjian Hudaibiah yakni di saat umat Islam sudah hampir memasuki kota Mekah dengan maksud berhaji, mereka justru mereka tidak bisa melaksanakannya dan hanya boleh melakukannya di tahun yang akan datang.

Umar bin Khattab pada saat itu keberatan dengan perjanjian yang ada. Umar bertanya kepada Rasulullah, “Bukankah engkau adalah Rasulullah?”

“Benar.” Jawab Rasul.

Umar bertanya lagi, “Bukankah kita kaum muslimin?”

Rasulullah menjawab, “Benar.”

Umar kembali bertanya, “Bukankah mereka adalah kaum musyrikin?”

Nabi menjawab, “Benar.”

“Bukankah engkau mengabarkan bahwa kami akan mendatangi Ka’bah dan Tawaf?” lanjut Umar.

Nabi menjawab, “Benar.”

Umar berkata “Lalu kenapa kita memberikan kehinaan kepada agama kita?”

Nabi Muhammad SAW kemudian menjawab, “Aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak akan menyelisihi perintah-Nya dan Dia tidak akan menelantarkanku.”

Kemudian Umar Bin Khatab bertanya kepada Abu Bakar sebagaimana pertanyaannya kepada Rasulullah. Abu Bakar menjawab persis seperti jawaban Rasulullah, dan menambahkan, “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah adalah Rasul Allah, beliau memerintahkan kebenaran. Beliau tidak akan menyelisihi perintah Allah dan Allah tidak akan menelantarkan Beliau.”

Rendah Hati

Abu Bakar menjadi Khalifah Islam yang pertama, yakni pengganti Rasulullah untuk memimpin kaum Muslim. Setelah diBaiat oleh seluruh Sahabat dan kaum muslimin, beliau berpidato untuk pertama kalinya:

Wahai Rakyatku ! aku telah terpilih sebagai wali kalian, meskipun aku tidak lebih baik dari kalian semua. Jika aku benar, taatlah kepadaku. Jika ternyata aku salah, luruskanlah aku. Tentu saja kebenaran adalah kejujuran dan dusta adalah kebohongan. Siapa yang lemah di antara kalian, sesungguhnya adalah yang kuat di sisiku sampai aku akan mengembalikan haknya kepadanya, Insya Allah. Siapa yang kuat di antara kalian adalah yang terlemah di sisiku sampai aku akan mengambil darinya hak orang lain yang diambilnya. Aku meminta kalian untuk mematuhiku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Jika aku mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, kalian bebas tidak mematuhiku.

Pidato tersebut bagaikan tonggak kuat kepemimpinan Abu Bakar. Meski dia “diistimewakan” dari sahabat lain, tidak menjadikan Abu Bakar tinggi hati dan menganggap kekuasaan tepat di gengamannya. Dia tetap menekankan bahwa selama yang dia lakukan “Benar” menurut Allah dan Rasul-Nya, maka ia masih bisa diikuti, begitu sebaliknya.

Abu Bakar tetap memberikan kuasa terhadap mereka yang dipimpin. Seyogyanya ini menjadi contoh bagi pemimpin-pemimpin di seluruh dunia bahwa kepemimpinan haruslah menyandarkan pada aturan Tuhan.

Tidak hanya prinsip-prinsip konstitusional fundamental Islam diartikulasikan seara cakap, tetapi juga menggarisbawahi inti ajaran yang mengikat pemerintah yang sedang berkuasa dengan rakyatnya. Selain itu, Abu Bakar tetaplah sahabat bagi sahabat lain. Beliau tetap meminta saran dan berdiskusi dalam memutuskan suatu perkara. Ini menjadi bukti bahwa puncak kepemimpinan tidak menjadikan beliau merasa benar sendiri.

Dermawan

Selama 23 tahun Abu Bakar melibatkan diri dalam semua aktivitas yang dilakukan oleh Rasululah. Menemani beliau Hijrah dari Mekah ke Madinah. Memberikan bantuan dan dukungan dengan gigih kepada Rasulullah. Sepanjang itu tentu tidaklah mudah bagi Abu Bakar. Banyak sekali hal yang dia korbankan untuk membela agama Allah, tidak terkecuali tentang harta. Namun, islamlah gaya hidup bagi Abu Bakar, sehingga tidaklah ada keraguan baginya untuk menginfaqkan hartanya di jalan kebenaran. Memperhatikan penuh kesejahteraan Rasulullah dan kelompok kecil pengikut beliau.

Pada momentum Perang Tabuk, Rasulullah mengimbau kepada kaum Muslim agar berinfaq untuk menyiapkan segala keperluan dan pasukan dalam menghadapi pasukan Romawi. Pada saat itu, Utsman Bin Affan berinfaq sebanyak 1000 dinar.

Umar bin Khattab berkata, “Rasulullah memerintahkan kami untuk bersedekah. Kebetulan ketika itu aku sedang memiliki harta. Akupun berpikir: Hari ini aku akan mengungguli Abu Bakar, maka aku akan berinfaq dengan setengah hartaku.

Rasulullah bertanya kepadaku, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?”

Umar menjawab, “Setengahnya lagi.”

Kemudian, datanglah Abu Bakar dengan membawa seluruh hartanya.

Rasululllah bertanya kepada Abu Bakar, “Apa yang engkau tiggalkan untuk keluargamu?”

Abu Bakar menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”

Mendengar itu Umar bin Khattab berkata bahwa ia tidak bisa mengungguli kedermawanan Abu Bakar. Begitulah Abu Bakar, sahabat utama bagi Rasulullah.

Jika kesalehan, kebajikan, dan kecintaan kepada Islam merupakan satu-satunya kriteria pilihan, maka setelah Nabi Muhammad SAW, Abu Bakarlah yang memimpin jalan tersebut. Sejak awal, komitmen, ketulusan, kepada Allah dan Rasul-Nya sangatlah luar biasa. Tak ada orang yang dapat dibandingkan dengannya bila berbicara tentang kebenaran, wawasan ajaran-ajaran Islam serta pengabdiannya kepada Allah dan Rasulullah.

Sumber :

  • Muhammad Mojlum Khan, Buku 100 Muslim Paling berpengaruh sepanjang sejarah
  • Tasaro GK, Buku Muhammad SAW, Seri 2 (Para Pengeja Hujan)
  • Abu Jannah, Buku Serial Khulafa Ar- Rasyidin, Abu Bakar Ash-Shiddiq (Sebaik-Baik Manusia Setelah Nabi & Rasul).

Editor: Ibnu Syaifuddin

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *