Oleh: Hikmah NI

Diangkatnya Mehmed II menggantikan Murad II sebagai pemimpin tertinggi Kesultanan Utsmani mengundang cibiran dari musuh-musuh Islam. Mereka mengira Sultan Mehmed yang masih belia dalam usia, dianggap tak memiliki kemampuan apa-apa dalam memimpin, terlebih berpolitik dan berperang.

Perkiraan itu semakin diyakini pemimpin-pemimpin di Eropa saat Sultan Mehmed dengan mudahnya menerima perjanjian demi perjanjian damai dengan mereka. Mereka beranggapan, Sultan Mehmed bukanlah ancaman, dan itulah kesempatan yang bagus untuk menggulingkan kekuasaan Utsmani.

Para Pemimpin Eropa itu keliru, sejarah telah banyak menuliskan kemenangan Sultan Mahmed menguasai kontantinopel di usianya yang belia. Anak muda yang telah dididik dan dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi pemimpin Utsmani ini telah membuktikan kepiawaiannya dalam menjaga Agama Allah. Taktik demi taktik dirakit dengan baik sebagai proses mulus peperangan dingin untuk menguasai jantung Eropa itu.

Dimulai dengan ide pembangunan benteng baru di seberang Anadolu Hisar sebagai pengamanan selat Bosphorus. Jalur selat Bosphorus dipakai Sultan Mahmed saat hendak menuju Edirne dari Bursa (1951), karena jalur selat Dardanela saat itu telah diblokade oleh kapal-kapal Italia yang jelas menghalangi perjalanan Sultan Mahmed saat itu.

Pembangunan benteng ini menjadi langkah awal, selain untuk pengamanan tadi, juga untuk memutus suplai makanan dan perlengkapan perang, bantuan serta mengawasi pergerakan logistic di Konstantinopel karena selat Bosphorus adalah nadi utama yang mengalirkan kehidupan ke Konstantinopel. Benteng ini dimulai pengerjaannya pada awal tahun 1952 dan selesai di tahun yang sama.

Kaisar Byzantium sangat yakin akan kekuatannya untuk menjaga Konstantinopel. Tidak kurang  dari 23 kali tembok Konstantinopel yang ada di darat ini dikepung, namun tidak ada satupun yang mampu menembusnya. Akan tetapi dari musuh Islam, siapa yang menyangka bahwa hal ini akan jatuh di tangan Kaum Muslim yang dipimpin oleh Mahmed II.

Pasti, akan ditaklukan Konstantinopel dan sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya. (HR. Ahmad).

Hal ini disadari oleh Sultan Mahmed, bahwa Konstantinopel hanya akan diruntuhkan oleh Pemimpin dan pasukan yang terbaik. Maka, Ia pun akan menjadi pemimpin sekaligus pasukan yang terbaik. Beliau juga mengerahkan segala persiapan, keahlian pasukannya dari berbagai teknik peperangan, terutama dalam teknologi peperangan.

Salah satu pasukan terbaik yang dimiliki oleh Kesultanan Utsmani adalah pasukan Yeniseri, berisikan mereka yang berusia 8-20 tahun. Mereka dididik dan dilatih dibarak militer untuk menjadi tentara terbaik. Tidak hanya menjadi tentara, mereka yang terlatih di pasukan ini juga sebagian akan menjadi aparatur Negara.

Mempelajari Alqur’an dalam pasukan ini menjadi pelajaran wajib, begitu pula ibadah ritual. Meningkatkan ketakwaan kepada Allah menjadi penting untuk ditekankan oleh Sultan Mahmed.  Melakukan shalat malam, berpuasa, membaca Alqur’an menjadi kebiasaan pasukan ini.

Menjelang akhir januari, Sultan Mahmed di usia 21 pada tahun itu, 1953, pembebasan konstantinopel semakin nyata bagi pasukan Muslim Utsmani. Di usia belia yang sudah dipenuhi ketakwaan kepada Allah memperkuat semangat juangnya untuk merealisasikan prediksi Rasulullah SAW.

Kepada pasukannya, Sultan Mahmed berkata; “Dan keberadaan Utsmani tidak akan pernah aman sebelum kita membebaskan Konstantinopel! Lihatlah bagaimana mereka tidak pernah berhenti mempersulit kita, dengan rutin mempersenjatai sebagian dari kita agar memerangi sebagian yang lain, merekalah yang berperan dalam menciptakan kekacauan dan perang saudara serta merusak kehidupan kita. Bila kita tidak menguasainya, atau konstantinopel tetap dalam posisinya yang sekarang, tidak ada kedamaian bagi Utsmani dan kita tidak bisa berharap banyak untuk masa depan kita.

 Memang telah terpatri bagi kaum Muslim bahwa semenjak pasukan Muawiyah menyerang kota itu kali pertama, sampai ayahku mencoba membebaskannya kemarin, bahwa kota ini tidak dapat ditembus. Namun saat ini, penunduk Konstantinopel satu sama lain bagaikan musuh yang berperang karena perbedaan dalam agama. Keadaan internal mereka sangat terganggu. Pada kali ini, tidaklah sama, kita menguasai seluruh lautan sehingga Konstantinopel bisa dikepung dari garis darurat maupun laut.

 Konstantinopel bukannya tidak tertaklukkan!

Dari ayah ke anak, api jihad terus menerus dinyalakan dalam hati para ghazi dan merupakan kewajiban ghazi untuk berjihad di jalan Allah!, Rasul telah menjanjikan takluknya Konstantinopel dan ini harus terjadi dalam masa kita. Kita harus mengerahkan semuanya untuk ekspedisi ini, jangan menyisakan apapun dari jiwa kita, harta kita, senjata-senjata.

 Kecepatan gerak adalah kunci dari pembebasan seluruh sumberdaya yang kita miliki harus dikumpulkan secara cepat, diorganisir secara cepat, agar bisa memberikan pukulan mematikan bagi musuh. Penaklukan ini adalah harga mati! Bila aku harus memimpin Utsmani tanpa Kontantinopel, lebih baik aku tidak menjadi pemimpin sama sekali!”

 Mengawali pergerakan secara besar-besaran, orasi yang jelas menunjukan bahwa Sultan Mahmed tidak akan gentar sedikitpun dalam perjuangannya, hal ini disambut dengan gemuruh takbir pasukan Utsmani. Suleyman Baltaoghlu adalah pemimpin yang ditunjuk oleh Sultan Mahmed untuk pergerakan armada laut yang dimulai, meski ketika masih musim dingin.

Ditetapkan juga Gallipoli sebagai tempat pasukan ini berkumpul sebelum menuju perairan Konstantinopel. Pasukan darat ditetapkan berkumpul di Edirne untuk pasukan yang berasal dari benua Eropa yang dipimpin oleh Ishak Pasha sementara dari benua Asia berkumpul di Bursa yang dipimpin oleh Karaja Pasha.

Pengelolaan pasukan dan pengambilan keputusan yang tepat dan cepat sudah dikuasai oleh Sultan Mahmed. Ketia kedua telah berhadap-hadapan, sesuai dengan perintah Rasulullah SAW dalam etika berperang, Sultan Mahmed mengirimkan utusan yang membawa sepucuk surat kepada Kaisar Constantine, surat ini berisi 3 pilihan yang bisa diambil oleh penguasa Byzantium. (1) Bersyahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah, lalu menjadi Muslim, (2) Membayar Jizyah dan tunduk pada syariat Islam, atau (3) diperangi sampai Allah memenangkan kaum Muslim.

Serangan Sultan Mahmed dan pasukan bertahan Konstantinopel terkonsentrasi pada dua titik rawan tembok tiga lapis. Untuk penyerangan benteng pasukan Sultan Mahmed menggunakan meriam yang dibuat oleh Orban, dia telah dibayar oleh Sultan Mahmed 4 kali lipat dari yang dia minta.

Serangan meriam ini selama 2 hari pertama dapat menghancurkan sebagian besar tembok. Parit sedalam 10 meter juga ditutup agar pasukan infentari dapat menyeberang, selain itu dibuat juga terowongan untuk masuk ke kota lewat jalan bawah tanah untuk penyerangan pasukan. Rantai raksasa yang melindungi benteng Konstantinopel juga menjadi perhatian bagaimana untuk mengatasinya.

Hari senin, 28 Mei 1453, masih dalam suasana hari-hari peperangan Sultan dan pasukannya berpuasa sunnah sebagai bentuk permohonan kepada Allah agar memudahkan penaklukan dengan menyucikan diri dari maksiat kepada-Nya serta meluruskan niat bahwa penyeranagn ini hanya untuk Allah semata.

Persiapan demi persiapan tetap dilakukan Sultan Mahmed di perkemahan kaum Muslim, seolah tidak akan pernah selesai. Mulai dari meriam, panah-panah, pertahanan serta alat-alat peperangan lainnya. Penyerangan akan dilakukan dari segala sisi Konstantinopel, yang akan menjadi puncak penyerangan umum pada 29 Mei 1953.

Tahun itu adalah awal baru bagi Islam di abad pertengahan, awal baru bagi Eropa dan pencerahan Modern di seluruh dunia Barat. Setelah pasukan pembuka telah mampu memasuki Konstantinopel kota dikondisikan baik oleh mereka agar tidak ada perlawanan dari dalam kota, juga tidak ada tindakan yang melanggar syariat Islam dalam peperangan. Pada kesempatan ini, pasukan khusus dari Yeniseri diutus untuk menjaga gereja, rumah dan setiap tempat-tempat public sipil di dalam kota untuk menjegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Setelah penaklukkan Konstantinopel pada 1 Juni 1953, shalat Jumat pertama digelar penuh khidmat di Konstantinopel. Sultan Mehmed langsung mengimami ritual ibadah mingguan umat Islam tersebut.

Konstantinopel kemudian dijadikan Ibu Kota Utsmani. Sultan mehmed memerintah rakyatnya dengan adil. Dia memperlakukan semua elemen masyarakat dengan sangat baik, menurut pada syariat Islam. Sultan Mahmed untuk membangun dan mengembalikan Konstantinopel sebagai pusat peradaban. Keahlian dalam memimpin segala aspek, 30 tahun setelahnya penduduk kota menjadi 4 kali lipat dan menjadi fondasi bagi penguasa-penguasa setelahnya.

George dari Hungaria yang mengunjungi Konstantinopel pada abad ke-15 membantah stereotype kaum Muslim sebagaimana yang digambarkan dan dituduhkan oleh Kristen yang buruk terhadap Islam.

“Orang Turki tidak memaksa siapapun untuk mengganti keyakinannya, tidak berkeras membujuk orang lain dan tidak peduli dengan soal balas dendam”.

Begitulah tergambar kisah jatuhnya Konstantinopel ke tangan Utsmani. Dengan perantara Mahmed Al Fatih, sang perebut kemenangan. Kemenangan itu direbutnya dalam waktu yang tidak lama sejak menjabat sebagai Sultan. Hebatnya kemenangan itu diraihnya dalam usia yang masih sangat muda, menginjak 21 tahun. Sontak, para pemimpin Eropa yang sebelumnya meremehkan, setelah peristiwa itu mendadak bungkam.

 

Sumber: Buku Muhammad Al- Fatih, 1453.

Editor: Ibnu Syaifuddin

 

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *