“Tidak mengetahui akan kewalian seseorang, kecuali dari kalangan wali”, ungkapan tersebut kerap terdengar dan masyhur di kalangan pecinta wali. Namun, tidak semua wali mudah diketahui seorang wali lainnya. Benarkah?

Ada tiga cerita yang mendasari pendapat tersebut. Pertama cerita seorang auliya Allah bernama Syekh Abu Bakar Al Kattani. Beliau ini suatu ketika ditemui orang tua yang teduh wajahnya. Orang tua tersebut berkata, “Mengapakah engkau tidak pergi ke Maqam Ibrahim? Seorang guru besar telah datang dan ia sedang menyampaikan hadits-hadits yang mulia. Marilah kita ke sana untuk mendengarkan kata-katanya.”

“Siapakah perawi dari hadits-hadits yang dikhotbahkannya itu?” Syekh Abu Bakar Al Kattani bertanya.

“Dari Abdullah bin Ma’marm, dari Zhuhri, dari Abu Hurairah dan dari Muhammad,” jawab orang tua itu.

“Sebuah rantai perawi yang panjang,” Abu Bakar Al Kattani berkata, “Segala sesuatu yang mereka sampaikan melalui rantaian panjang para perawi di tempat itu dapat kita dengarkan secara langsung di tempat ini.”

“Melalui siapakah engkau mendengar?” Orang tua itu bertanya.

“Hatiku menyampaikannya padaku langsung dari Allah,” jawab Abu Bakar Al Kattani.

“Apakah kata-katamu itu dapat dibuktikan?” Orang tua itu bertanya. Kalau bahasa banjarnya kira-kira: Bujurjuakah pandir nyawa tuh. Mana buktinya?

“Inilah buktinya,” Abu Bakar Al Kattani menjawab,”Hatiku mengatakan bahwa engkau adalah Khidir.”

“Selama ini aku mengira tidak ada sahabat Allah yang tidak kukenal,” Khidir berkata. “Demikianlah halnya sebelum aku bersua dengan Abu Bakar Al Kattani. Aku tidak mengenal dia tetapi dia mengenalku. Maka sadarlah aku bahwa masih ada sahabat-sahabat Allah yang tidak kukenal tapi kenal kepadaku.”(bbs)

Editor: Ibnu Syaifuddin

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *