Ketika menggelar majelis, Ketua MUI Kalsel, KH Husin Nafarin mengungkapkan akhlak Abah Guru Sekumpul (Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani) saat berhadapan dengan “ahli maksiat”.
Peristiwa itu terjadi pada  malam 17 Agustus, yakni malam hari kemerdekaan Republik Indonesia.
Pada malam tersebut, Abah Guru berjalan-jalan di kota Banjarmasin dan mendapati sekelompok anak muda yang asyik berjoget ria di sudut kota.
Ulama besar ini, ujar Guru Husin, tak lantas mendekati mereka dengan dalil yang menusuk mereka, melainkan mengucapkan doa, “Allahumma kama farrahtahum fid dunya, fa farrihhum fil akhirah (Ya Allah, sebagaimana engkau bahagiakan mereka di dunia, maka bahagiakan juga mereka di akhirat, red).
Doa yang konon dari Imam Hasan Al Basri ini juga pernah diucapkan oleh pengasuh Rubat Tarim-Hadramaut, yakni Habib Hasan bin Abdullah As Syathiri. beliau memanjatkan doa itu di sebuah hotel di Singapura.
Saat itu, murid beliau sedang mengurus check in di lobby hotel, Habib Hasan mendapati sepasang kekasih bule sedang bermesraan di salah satu sofa yang tak jauh dengan Habib Hasan. Keduanya tak hentinya berpelukan dan berciuman.
Habib Hasan hanya menundukkan kepala ketika mengetahui ada sepasang kekasih yang sedang bercumbu di depannya.
Setelah urusan check ini selesai, si murid pun kembali menghadap Habib Hasan dan mengajak Habib Hasan masuk ke lift, menuju kamar hotel yang sudah dipesan.
Tak disangka, sepasang kekasih itu juga memasuki lift yang sama. Mereka masuk ke dalam lift dan meneruskan kemesraan mereka. Murid Habib Hasan marah dan bermaksud menegur sepasang kekasih yang sudah berlaku tidak sopan di hadapan ulama besar itu.
Keinginan murid itu kemudian ditegah Habib Hasan. Sementara beliau tetap menundukkan kepada dan kemudian membaca doa, “Allahumma kama farihtahuma fid dunya, fafarih huma fil akhirat (Ya Allah, seperti engkau beri kebahagian pada mereka berdua (sepasang kekasih itu) di dunia, bahagiakanlah mereka di akhirat, red).
Begitulah akhlak ulama-ulama besar kita. Mereka tidak reaktif membabi buta ketika mendapati kemaksiatan. Rasa kasih sayang mendahului kemarahan mereka. Mereka membenci kemaksiatan yang dilakukan, bukan individunya. Buktinya, mereka tetap memintakan kebahagiaan pada orang-orang tersebut.(bbs)
Editor: Ibnu Syaifuddin

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *