Suatu ketika, Kiai Ahmad Muwafiq atau yang masyhur dikenal dengan Gus Muwafiq bertamu ke Sekumpul.

“Gus, nanti saya kasih kasturi,” kata Abah Guru.
 
“Terimakasih, Tuan Guru,” sahut Gus Muwafiq.
 
Setelah mau berangkat pulang, kasturi itu sudah dibungkus dalam kardus. Gus Muwafiq girang bukan main.
 
“Bener-bener wali, kasturi sekardus dikasihkan ke saya,” pikir Gus Muwafiq membayangkan di dalam kardus itu berisi minyak wangi kasturi.

Sesampainya di rumah, Gus Muwafiq tak sabar membuka kardus hadiah Abah Guru. Setelah dibuka, eh isinya seperti buang mangga, tapi kecil-kecil (buah khas Kalimantan Selatan).
 
Dalam kesempatan lain, Gus Muwafiq komplain kepada Abah Guru. Tidak jelas kapan beliau menanyakan itu, apakah langsung bertatap muka atau melalui sambungan telpon. Yang jelas, Gus muwafiq menanyakan hadiah kasturi dari Abah Guru, “Katanya kasturi?”
 
“Lha itu kan kasturi. Saya kan bilangnya nggak pakai minyak,” jawab Abah Guru (kemungkinan Abah Guru tersenyum saat mengatakan itu).
 
Gus Muwafiq tersenyum, merasa dikerjai.
***
Kenangan bersama Abah Guru di atas pernah disampaikan Gus Muwafiq ketika menjadi penceramah di Kabupaten Barito Kuala, Kalsel. Sengaja saya ceritakan kembali, karena mengingat akhir-akhir ini banyak isu miring yang dialamatkan kepada beliau.
 
Gus Muwafiq sedang diduga sebagian orang menghina Rasulullah SAW. Logika awam saya berpikir, mana mungkin ada orang Islam yang menghina Rasulullah SAW, apalagi beliau adalah seorang kiai. Bahkan menurut beberapa sumber, beliau mememiliki keterikatan keturunan dengan Baginda Rasul.
 
Mesti ada yang salah dalam hal ini. Jika bukan Gus Muwafiq yang keliru (salah ucap bukan bermaksud menghina), para pendengar (penonton) yang keliru, atau ada orang-orang yang keliru (yang bermain untuk menjatuhkan beliau).
 
Untuk memastikannya, alangkah lebih baiknya konfirmasi langsung kepada yang bersangkutan. Hal-hal yang masih praduga, lebih baik ditinggalkan. Sebab kesimpulan yang didasari dugaan-dugaan tidak bisa dijadikan pegangan.
 

Kamu tentu tidak bisa menikahi wanita hanya karena kamu menganggap dia mencintaimu. Tanyakan dulu, mau nggak dia sama kamu? Kan begitu.

 
Karena itu, saya khawatir praduga itu tergelincir pada fitnah. Dengan begitu, si pemitnah yang salah dengan yang difitnah. Kalau begitu kondisinya, bagaimana minta maafnya, sedangkan Banjarmasin-Jogja (kalau pemitnah dari Banjarmasin) jauh jaraknya. Mahal harga tiketnya. Apalagi, alamat rumah beliau tidak tahu, dan jangan-jangan sampai di sana tak bisa ketemu, karena jadwal dakwah beliau yang padat.
 
Ingat ya, ini sudah bawa-bawa nama Rasulullah. Gus Muwafiq sudah klarifikasi bahwa beliau tidak ada maksud menghina. Dan Rasulullah SAW tidak mungkin terhina hanya karena ada yang menghina.
 
Sekarang masalahnya, bagi yang memfitnah (jika benar fitnah). Kamu sudah bawa-bawa nama Rasulullah memfitnah kiai (yang nasabnya ada ikatan dengan Rasulullah), tangungjawab nanti di hadapan Rasulullah. Kemudian, kamu juga harus minta maaf dengan kiai yang kau fitnah, baru selesai urusanmu dengan kesalahan itu.
 
Nah, susahkan?
 
Karena itu, kita perlu belajar pada segelas kopi dalam menghadapi isu viral. Kalau masih diaduk, jangan langsung diminum. Diamkan sejenak, lalu seruput seadanya, tinggalkan jelaganya.
 
Kasus seperti ini terus berulang. Dari dulu hingga sekarang, bahkan mungkin di masa yang akan datang. Skenarionya sama, pelaku dan korbannya saja yang berganti rupa.
 
Saya teringat, kasus senada yang dialami Abah Guru. Beliau difitnah menjual agama hingga menghina Rasulullah SAW, bahkan isu itu terus berkembang setelah kewafatan beliau. Tapi diterpa fitnah yang begitu deras, nama beliau semakin berkibar. Haul beliau digelar dengan jumlah jemaah yang tidak terhitung banyaknya.
 
Tuhan ternyata tidak menghinakan orang yang difitnah. Sebuah syair mengisyaratkan:
 

Wa idza araada Ilaahu nasyra fadhilatin
Thowiyat, ataaha laha lisaana haasidin
Laula isyti’alun naari fi ma jaawarat
Ma kaana yu’rafu thiibu nasyril ‘uudi
Maa min nabiyyin aw waliyyin kaamilin
Nusyirat lahurraayatu illa ‘udiya

Ketika Allah akan menampakkan
sebuah keutamaan seseorang
Allah mengarahkan lidah-lidah pendengki kepadanya
Seandainya tidak ada api yang membakar
Niscaya wanginya kayu-kayu gaharu tidak akan menebar
Tak seorangpun Nabi atau Wali yang pamornya berkibar
Kecuali mereka dimusuhi.

***
 
Fitnah itu layaknya buah kasturi, getahnya agak kecut memang, tapi aromanya menggugah selera serta manis dagingnya.
 
Gus Muwafiq dapat sekardus? Hem, banyak juga.(*)
 
 
 
 
-Salam dari muhibbin Kiai-
Catatan: Gus Muwafiq adalah asisten pribadi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kemungkinan pertemuan beliau dengan Abah Guru pada saat Gus Dur bertamu ke Sekumpul. Dua kali Gus Dur bertamu yang disaksikan banyak orang, selebihnya diam-diam. Setiap pertemuan, keduanya saling melempar guyonan.
Oleh: Muhammad Bulkini

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *