muhibbin.online, BANJARMASIN – Di umur sekitar 21 tahun, Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul) pernah mengalami perjalanan gaib, yakni menembus jarak dan waktu. Dalam perjalanan itu, Abah Guru dipertemukan dengan seorang kiai kenamaan dari Pulau Jawa ketika di negeri Timur Tengah.
Pada tahun 1962 itu, sebagaimana diceritakan Tuan Guru H Syaifuddin Zuhri, ada kejadian ganjil yang dialami Abah Guru Sekumpul. Cerita ini, diakui Guru Syaifuddin, langsung diceritakan Abah Guru dengan beliau.
Pada waktu itu, Abah Guru yang sedang berada di rumah  diperintah seorang tua –tidak disebutkan siapa orang tersebut-. Orang tua itu menyuruh Abah Guru untuk menyusuri jalan di belakang rumah beliau. Mendapat perintah itu, Abah Guru pun kemudian memasang baju dan menyusuri jalan yang ditunjukkan orang tua tersebut.
Setelah disusuri beliau, ternyata Abah Guru tak lagi melihat rumahnya. Di tempat “baru” tersebut, beliau duduk dengan penuh keheranan. Hingga  kemudian, dipertemukan dengan seorang tua lainnya. 
“Basalaman (berjabat tangan) aku (dengan orang tua itu),” ujar Guru Syaifuddin meniru perkataan Abah Guru.
Orang tua itu kemudian mengajak Abah Guru berziarah ke makam Syekh Abdul Qadir Jailani. Rupanya tempat baru itu berada di Irak.
Abah Guru pun bertanya kepada orang tua tersebut, “Pian ini siapa?”

“Aku Abdul Hamid Pasuruan,” kata orang tau itu menjawab.

“Kamu siapa?” tanya Kyai Hamid.

“Ulun dari Kalimantan Selatan, Keraton. Zaini bin Abdul Ghani.”
“Oh santrinya Kiai Syarwani ya,” kata Kiai Hamid.
Setelah berziarah dan berjabat tangan, Kiai Hamid kembali hilang. Abah Guru pun kembali kebingungan. Beliau sempat berpikir untuk meminta pihak kedutaan Indonesia di Irak untuk memulangkan beliau ke kampung halaman.
Saat duduk-duduk sembari berpikir untuk pulang, seorang tua kembali datang dan menyapa Abah Guru dengan bahasa yang beliau pahami.
“Nang, nyawa handak ke mana (Kamu mau ke mana)?” kata orang tua itu.
“Pian ini siapa?”
“Aku urang (orang) kita jua, di Masjid Martapura.”
“Aku adalah Muhammad Qohir anak datu Bedoq (seorang jin anak dari jin islam yang bernama bedoq atau Badaqut. Badaqut adalah murid dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari). Umpatkah ikam nang bulik lawan aku (mau ikut pulang denganku)?”
“Kada wani (tidak berani),” jar Guru, “Busiah gugur (takut jatuh), mati. Pian terabang (sampean bisa terbang).”
“Kaini aja,” ujar Muhammad Qohir, “Ikam tadi tulak mulai belakang rumah tambus di belakang pauduan (tempat wudhu). Masuk aja di situ.”
Abah Guru pun kemudian menyusuri jalan di mana beliau datang. Tanpa dikira, beliau kembali sampai ke depan rumah beliau.
“Itulah setengah perjalananku nang (yang) masuk-masuk ke alam gaib,” ujar Guru Syaifuddin kembali meniru perkataan Abah Guru.
Editor: Muhammad Bulkini

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *