Keberadaan pendeteksi bom di makam Sekumpul sempat membuat geger masyarakat di Kalimantan Selatan menjelang Pilpres pertengahan tahun kemarin. Tapi saya beranggapan, masyarakat yang geger adalah masyarakat yang baru “melek” Sekumpul. Atau baru datang ke Sekumpul setelah peringatan haul Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani –Allah Yarham- dihadiri ratusan ribu jamaah.
Kenapa saya katakan demikian? Karena andai mereka orang lama yang hadir di Sekumpul, tentu mereka tahu ada banyak pejabat yang datang ke Sekumpul. Mulai dari petinggi partai hingga Presiden dan Wakil Presiden.
 
Apakah ketika mereka berkunjung juga melakukan pengamanan dengan pendeteksi bom? Saya jawab, “Sebagian iya.”
 
Sebagaimana disebutkan Ahmad Rosyadi dalam bukunya “Bertamu ke Sekumpul”, Abah Guru Sekumpul –Syekh Muhammad Zaini- menceritakan di majelis beliau tentang kunjungan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ke rumahnya.
“Sebelum Gus Dur makan, makanan itu dicium dulu oleh stafnya. Aku heran, hidung orang itu mungkin punya alat untuk menyensor makanan,” canda Abah Guru Sekumpul mengenang kedatangan Gus Dur ke rumahnya. (Bertamu ke Sekumpul; 2004).
 
Dari kalimat itu apakah Abah Guru terlihat terhina dengan makanan yang ada di rumah beliau diciumi oleh staf kepresidenan atau prasangka-prasangka semisalnya? Tidak.
 
Abah Guru bahkan membiarkan pendeteksi bom masuk ke kamar kecilnya ketika Gus Dur minta izin untuk berwudhu.
 
“Nang kuning banar ai ada di situ (hanya ada kotoran di situ, red),” ujar Abah Guru sembari tertawa, ketika menceritakan staf keamanan mendeteksi kamar kecil beliau.
 
Nah, jika semasa Abah Guru di tengah-tengah kita saja tidak ada ketersinggungan atas kerja para pihak keamanan, kenapa kemudian seolah-olah pihak pengamanan disalahkan?
 
Lebih-lebih, Kiai Ma’ruf bukan yang pertama kali ke Sekumpul, Mantan Ketua MUI pusat itu pernah bertamu ke Sekumpul, dan berbincang lama dengan Abah Guru. Konon, beliau berdua berbincang semalam suntuk.
 
Sampai di situ, kita tentu mengerti ada orang-orang yang mempermainkan isu ini untuk mencari simpati -di antara mereka berhasil jadi wakil rakyat-. Padahal setelah saya telusuri, di antara penyebarnya adalah orang yang tak suka berziarah, alias wahabi. Anehnya, masyarakat kita mudah percaya dan mudah terprovokasi.
 
Ya, lain kali, jangan mau dipanas-panasi, sebab kita bukan makanan yang mau basi.(*)

Oleh: Muhammad Bulkini

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *