Gambus yang mengancam akan mengguncang arsy itu milik Habib Segaf bin Abu Bakar Assegaf. Ancaman itu berawal dari teguran Habib Abu Bakar Assegaf kepada sang anak, Habib Segaf yang sedang asyik bermain gambus di masa remaja.
“Sudah yek, kapan kau belajar bila hanya bermain gambus,” begitu kira-kira teguran Habib Abu Bakar yang dikenal dengan Wali Qutub dari Kota Gresik, Surabaya itu.
Gambus itu pun diambil Sang Ayah, dan disimpan di dalam lemari.
Singkat cerita, saat Habib Abu Bakar sedang qiyamul lail (shalat malam), beliau mendengar suara tangisan. Tangisan yang begitu memilukan.
Akhirnya, Habib Abu Bakar menelusuri dari mana datangnya suara tangisan tersebut. Hingga beliau mengetahui tangisan itu berasal dari dalam lemari. Dan tidak lain, gambus milik anak beliau itulah yang sedang menangis.
Dengan izin Allah, gambus itu berkata kepada Habib Abu Bakar, 
 

“Jika engkau tidak menyerahkan aku kepada Habib Segaf, aku akan terus menangis sampai arsy bergoncang.”

Sejak saat itu, Habib Abu Bakar tidak lagi melarang putranya bermain gambus.
Konon, kegandrungan Habib Segaf bermain gambus ini diramalkan seseorang ketika Habib Abu Bakar masih di kota leluhurnya, Tarim, Yaman.
Pada saat itu, ada seseorang yang sepanjang harinya menghabiskan waktu dengan bermain gambus. Sebagian berpendapat, orang tersebut adalah orang jadzab. Ketika sampai waktu shalat, orang tersebut masih asyik dengan gambusnya. Maka Habib Abu Bakar pun menegurnya.
Orang tersebut pun menyahut, “Kelak kau akan diberi anak layaknya aku.”
Dan benar, putra Habib Abu Bakar yang bernama Habib Segaf sangat menggandrungi seni gambus. Beliau di kemudian hari terkenal dengan gambus jalsahnya.
Habib Segaf memiliki murid yang mewarisi kepiawaiannya bermain gambus, yakni Habib Abdul Qadir Bilfaqih dan Abdullah Ta’lab.
Berbagai sumber
Editor: Muhammad Bulkini

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *