“Bukan petir yang menumbuhkan tanaman, tapi hujan yang turun dengan kelembutan.”

 
Ungkapan yang disarikan dari perkataan Syekh Jalaluddin Rumi dan Habib Sholeh Al Hamid (Tanggul) itu, kiranya tepat menggambarkan momen muallafnya seorang mentalis kenamaan Indonesia, Deddy Corbuzier.
 
Deddy pada awalnya hanya bertanya pada para ulama tentang bagaimana menjadi orang baik. Dari situ, dia mendapati Islam.
 
“Saya banyak belajar dari Gus Miftah dan ustadz lainnya bagaimana menjadi orang yang baik. Bukan menjadi Muslim,” kata Deddy seperti dikutip dari tribun.com.
 
“Dan ternyata ajaran menjadi orang yang lebih baik, saya dapatkan dari teman saya yang kebanyakan muslim dan saya (pun memilih menjadi, pen) muslim,” imbuhnya.
 
Deddy selama ini dikenal sebagai pesulap yang cerdas dan kritis. Dia bukan tipe orang yang mudah meyakini sebelum meneliti. Maka, setelah lama bersinggungan Islam dan menggali pengetahuan agama ini, akhirnya pintu hatinya terketuk. Dia pun memutuskan berislam.
 
Menariknya, Deddy memilih dituntun membaca syahadat oleh Kiai NU, Gus Miftah, dan menjalani shalat pertamanya dengan diimami mantan Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin.
 
Sebelum Deddy, presenter olahraga Tio Nugroho juga memeluk Islam dengan dibimbing Kiai NU pada awal bulan Juni, 2019.
 Tio bercerita, saat pulang mengawal siaran olahraga, dia mendengar adzan. Lantunan penanda masuk waktu shalat itu tiba-tiba membuatnya merinding. Saat itulah, dia merasa terpanggil masuk Islam. Saat itu, Tio langsung mengingat sosok ulama santun negeri ini, Kiai Ma’ruf. Sehingga, dia pun menemui Kiai sepuh itu untuk dituntun bersyahadat.
Nah, kenapa akhir-akhir ini banyak orang cerdas masuk Islam melalui NU?
 
Jawabnya beragam, tentu saja. Tapi perkataan ulama sufi di atas tentu patut direnungkan, “Bukan petir yang menumbuhkan tanaman, tapi hujan yang turun dengan kelembutan.”
 
Wallahu a’lam.

Oleh: Muhammad Bulkini

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *