Oleh: Ibnu Syaifuddin
Anggap saja anda memiliki kekasih yang begitu dicinta. Sepanjang waktu anda habiskan bersama, saat suka maupun duka.
Hingga suatu ketika, orang yang anda cintai itu pergi “meninggalkan” anda selama-lamanya. Lantas, dapatkah anda kembali meneruskan hidup di tempat itu, melakukan rutinitas yang sama, yang tentu akan memutar kenangan bersamanya?
Akan ada banyak alasan untuk jawaban ini, dan tidak ada salahnya.
Tapi andai pertanyaan itu disodorkan pada orang ini, dia (beliau) tak akan kuat.
 
Namanya Bilal bin Rabah RA, sahabat agung dari Rasulullah SAW. Lelaki berkulit hitam itu tak mampu lagi meneruskan rutinitasnya sebagai muadzin sepeninggal Rasulullah SAW.
Cinta di dadanya begitu menggelora. Mendengar nama Rasul disebut, mengalir air mata rindu padanya.
 
Disebutkan dalam Shuwar min Hayaatis Shahabah karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, Bilal hanya mampu menjadi muadzin hanya 3 hari setelah Rasul “Wafat”.
 
Tak kuat menahan rindu, Bilal kemudian memilih menepi ke Suriah. Sebab kota Madinah selalu mengingatkannya pada sang kekasih. Setiap jengkal jalannya, tembok, bahkan debu yang berterbangan seolah selalu menyebut namanya. Pecinta mana yang sanggup menahan serangan itu?
 
Sangat lama Bilal meninggalkan Madinah, hingga suatu ketika dia mendapat mimpi istimewa, berjumpa dengan pujaan hatinya. Dalam mimpi itu Rasulullah bertanya, “Wahai Bilal, mengapa engkau tak pernah mengunjungiku?”
 
Bilal bangun tidur dengan terperanjat, degup jantungnya memburu. Tanpa pikir panjang, dia siapkan bekal untuk perjalanan jauh ke Madinah. Kota yang siap menghujaninya dengan pukulan kenangan.
Sesampainya di Madinah, Bilal berziarah ke makam Rasulullah SAW dengan pipi yang basah. Dia menumpahkan rindunya di depan makam. Mengetahui kedatangannya, tiba-tiba dua orang pemuda mendekat kepadanya. Mereka adalah cucu Rasulullah SAW, Sayidina Hasan dan Husain RA.
 
Dengan mata yang sembab, Bilal menatap keduanya kemudian menyongsong untuk memeluk mereka.
 
“Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami, paman,” salah seorang dari mereka kemudian meminta.
 
Bilal pun memenuhi permintaan mereka. Saat waktu shalat telah tiba, beliau mengambil posisi, menarik nafas dalam, dan menguat diri untuk melantunkan adzan.
 
“Allahu Akbar, Allahu Akbar!”
 
Suara itu menggegerkan kota Madinah, orang-orang berhamburan menyadari bahwa Bilal telah kembali melantunkan adzan.
 
Ketika sampai di kalimat “Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah”, lidah Bilal tercekat, dan air mata pun berguguran. Kaum muslimin yang menyaksikan kejadian itu pun meraung, air mata tak lagi bisa ditahan. Mereka terkenang Baginda Rasul SAW ada di tengah-tengah mereka.
 
Konon, Bilal tak mampu melanjutkan lantunan adzannya, dan harus digantikkan orang lain. Selepas kejadian itu, Bilal kembali menepi, mengasingkan diri dari kota yang selalu mengingatkannya pada Sang Nabi, Sang Kekasih Hati (SAW).
 
***
 
Tulisan ini sebenarnya bukan soal Sayidina Bilal, tapi soal rindu. Adakah air matamu gugur ketika mendangar nama gurumu, Rasulmu? Dan bagaimana jika ada perindu seperti itu, ke mana dia harus mengadu?(*)

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *