Meski berasal dari inisiatif dan biaya warga Banjar, Takmir Masjid Quwwatul Islam tak ingin masjid itu dimiliki satu suku. Karena itulah, masjid yang semula berbentuk mushalla dengan nama “kalimantani” diganti dengan nama “Quwwatul Islam”.

Sejarah Berdirinya Masjid Quwwatul Islam

Ketua Takmir Masjid Quwwatul Islam, H Muhammad Rozi Amin menceritakan, sebelum tahun 1945, para pejuang dari Kalimantan yang tergabung dalam “Laskar Kalimantan” bermukim di Yogyakarta. Dengan memperhatikan keadaan sekitar, para warga Kalimantan yang mayoritas dari suku Banjar itu kemudian bersepakat membangun tempat ibadah.
 
“Niat baik itu kemudian disampaikan pada pihak keraton dan disambut baik oleh Sultan. Mulai saat itu, kita mendapat hak pakai (bukan hak milik) hingga sekarang,”  ujar lelaki keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari ini, pada Minggu (28/4/2018), Yogyakarta.
 
Pada tahun 1943 terbangunlah mushalla Kalimantani di Jl Mataram No 1, Suryatmajan, Danurejan, Yogyakarta dengan biaya pribadi warga banjar, H Hasan. H Hasan sendirilah yang kemudian menjadi imam tetap di mushalla itu, dan dilanjutkan anak beliau, Muhammad Zein.
 
Tahun 1953, terjadi perombakan besar-besaran dari mushalla menjadi masjid. Namanya pun diganti dengan “Quwwatul Islam” yang bermaksud kesatuan Islam. Ditenggelamkanlah kesukuan banjar yang melekat pada tempat ibadah tersebut, dan menonjolkan persatuan Islam.
 
“Artinya, Masjid ini bukan milik orang Banjar, tapi milik semua umat Islam,” ujar Muhammad Rozi.
 
Kendati demikian, panitia takmir Masjid memang masih banyak dari kalangan warga keturunan Banjar yang sudah mukim, bahkan sudah lahir di Yogyakarta.

Warga Banjar di Kalimantan Turut Ambil Bagian dalam Pembangunan

Pembangunan masjid ini  banyak mendapat sumbangan dari warga Banjar melalui dompet peduli di surat kabar harian di Banjarmasin maupun ketika datang berkunjung ke Yogyakarta. 
 
Namun, sumbangan terbesar didapatkan dari warga Islam di Yogyakarta, dengan datang langsung ke tenda yang memang diperuntukkan menerima bantuan dari warga yang melintas di Jl Mataram ketika ingin menuju Malioboro.
 
“Dari dompet peduli didapat sekitar 3-4Milyar, sedangkan dari warga muslim Yogya sendiri sekitar 7-8 milyar,” ujar lelaki berumur 69 tahun tersebut.
 
Dana pembangunan Masjid hingga saat ini, sudah menghabiskan biaya 18 Milyar. Masjid yang terkesan mewah tersebut dilengkapi lift dan escalator yang menghubungkan antar lantai, mulai dari basement, ruang peribadatan utama, hingga aula dan perkantoran di lantai paling atas. Tinggal sedikit renovasi lagi, masjid dengan corak ukiran khas Banjar dan berlantai 5 tersebut akan rampung.
 
Muhammad Rozi yang masih fasih berbahasa banjar itu kemudian menunjukkan foto koleksinya bersama pejabat asal Banjar, yang datang sekaligus memberikan sumbangan. Di antara yang nampak, Pangeran Rusdi Effendi, Sultan Khairul Shaleh, dan Gubernur H Sahbirin Noor.
Hingga saat ini, Masjid Quwwatul Islam masih menerima sumbangan untuk merampungkan pembangunan. Sumbangan selain bisa diserahkan langsung ke tenda peduli di depan Masjid Quwwatul Islam di Yogyakarta juga bisa melalui rekening Yayasan Quwwatul Islam di nomor rekening atas nama Panitia Pembangunan Masjid Quwwatul Islam: Bank BRI 1111.01.0000.51300, Bank BNI 2600.51300.7, Bank Mandiri 137.0000.51300.8.
 
Penulis: Ibnu Syaifuddin

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *