“Saya heran kepada mata yang tidur, padahal ia tahu betapa lamanya terpuruk dalam kegelapan kubur.”
(Muadzah Al-Adawiyyah)

Keperkasaan atau kegagahan adalah sifat yang kerap disandangkan pada lelaki. Tapi apa jadinya jika seorang lelaki gagah dari kalangan muslim membaca riwayat ulama dari kalangan wanita yang satu ini.

Muadzah Al Adawiyyah namanya, seorang istri shalehah dari Abu Ash-Shahba. Dia dan suaminya menjadi simbol ahli ibadah di masanya. Sebagaimana diriwayatkan, dia menghidupkan seluruh malamnya untuk shalat, dzikir, dan tasbih. Shalat (sunahnya) terbilang 700 rakaat dan tak pernah lalai dari membaca Alqur’an.

Sampai di situ saja, kelu rasanya lidah untuk melanjutkan membaca jalan hidup ulama wanita yang satu ini.

Muadzah disebut sebagai seorang yang memiliki sikap zuhud, wara, dan bijaksana. Lisannya mengalirkan kata-kata hikmah yang berasal dari kebeningan hatinya. Kata-katanya menunjukkan kefasihan, seni, dan kemapanan dalam berbahasa.

Di antara kata-katanya, “Saya heran kepada mata yang tidur, padahal ia tahu betapa lamanya terpuruk dalam kegelapan kubur.”

Dia pernah memperingatkan untuk tidak tertipu dan terfokus pada dunia. “Saya temani dunia selama 70 tahun. Saya tak melihat ketenangan mata sama sekali di dalamnya.”

Ketika datang malam, ia berkata, “Ini adalah malam kematianku.” Dia pun menahan tidur hingga pagi. Jika dia tertidur, ia segera bangkit dan berlari dalam rumahnya dan mencela dirinya sendiri. Kemudian ia terus-menerus berkeliling hingga pagi karena takut kematian saat ia lengah dalam tidur.

Saat musim dingin datang menyerang, Muadzah sengaja mengenakan pakaian dengan bahan yang lebih tipis. Itu dimaksudkan agar udara dingin membantunya melawan kantuk, sehingga ia mengisinya dengan beribadah dan berdoa.

Pujian Ulama untuk Muadzah Al Adawiyyah dan Abu Shahba

Bersama suaminya, ia bekerja keras untuk ibadah hingga keduanya menjadi perumpamaan ahli ibadah.

Abu As-Siwar Al-Adawi mengatakan, “Bani Adiy adalah komunitas yang paling keras berusaha. Inilah Abu ash-Shahba yang tak tidur malam hari dan tidak berbuka di siang hari. Inilah istrinya Muadzah binti Abdullah yang tak pernah mengangkat kepalanya ke langit selama 40 tahun.”
Di samping dikenal sebagai ahli ibadah, Muadzah juga dikenal sebagai seorang wanita ahli fiqh dan alim. Yahya bin Ma’in mengomentari tentang dirinya, “Muadzah seorang yang tsiqah dan menjadi hujjah.”

Ibnu Hibban memasukannya dalam jajaran perawi tsiqah dan memujinya.
Pada tahun 62 H, suami dan anaknya syahid di Sajistan. Saat berita duka itu sampai kepadanya, ia tak menampar muka atau merobek pakaian, tetapi sabar dan mengembalikan ketentuan itu pada Tuhan.

Kabar duka itu pun terdengar pada tetangganya, sehingga banyak wanita berkumpul di rumahnya untuk menyampaikan belasungkawa. Namun Muadzah berkata lain, ”Selamat datang kepada kalian, jka kalian datang untuk menyampaikan ucapan selamat. Namun jika kalian datang bukan untuk tujuan tersebut, pulanglah.”

Para wanita itu terkagum dengan kesabaran Muadzah. Mereka keluar dengan membicarakan kesabaran yang telah Allah berikan padanya. Peristiwa ini semakin menambah kedudukannya dan posisinya di mata mereka.

Allah menggambarkan wanita-wanita shalihah dalam firman-Nya, “Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).”(QS. An-Nisa).

Menjaga Diri Sepeninggal Suaminya

Wanita yang memelihara diri dan harta setelah suaminya tiada adalah nilai terbesar yang diidamkan dalam diri wanita. Muadzah termasuk dalam golongan itu.

Ummu Al-Aswad binti Zaid Al-Adawiyyah yang pernah disusui olehnya berkata, “Muadzah berkata kepadaku saat Abu Ash-Shahba dan anaknya terbunuh, ‘Demi Allah, wahai putriku! Tidaklah kecintaanku untuk tetap tinggal di dunia untuk kesenangan hidup dan ketenangan jiwa. Tapi sungguh saya tidak suka tetap tinggal kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai cara. Semoga Allah mengumpulkan antara diriku dengan Abu Ash-Shahba beserta anaknya di surga.”

Muadzah mewujudkan perkataan ini dalam perbuatan. Tak ada malam yang ia lewati kecuali senantiasa berdoa kepada Tuhannya dengan perasaan takut dan berharap bertemu dengan-Nya serta berangan-angan mendapatkan rahmat-Nya.

Sejak suaminya syahid, ia tak lagi bersandar di kasur tidurnya hingga meninggal, karena khawatir merasakan kelembutan kasur dan lupa dengan apa yang ia janjikan kepada Allah untuk senantiasa berdoa.

Sepeninggal suaminya, Muadzah masih hidup lebih 20 tahun. Setiap hari yang ia lewati, senantiasa ia siapkan untuk bertemu dengan Allah SWT. Ia berharap dapat berkumpul kembali dengan suami dan anaknya dalam naungan kasih sayang-Nya.

Wafat

Dikisahkan saat menjelang ajalnya, Muadzah menangis kemudian tertawa. Lalu ia ditanya, “Apa alasan untuk menangis dan apa alasan untuk tertawa?”

Ia menjawab, “Adapun tangisanku yang kalian lihat, karena saya mengingat perpisahan dengan aktivitas puasa, shalat dan zikir. Itulah tangisan tadi. Adapun senyuman dan tawa, karena saya melihat Abu Ash-Shahba telah menyambutku di beranda rumah dengan dua kalung berwarna hijau. Dan ia bersama dalam rombongan. Sungguh saya tidak melihat mereka mempunyai kalung yang menyamainya. Maka saya tertawa.”

Itulah firasatnya. Ia wafat sebelum masuk waktu shalat pada tahun 83 H.
Usai sudah lembaran hidup wanita yang shalihah dan ahli beribadah ini. Sejarah hidupnya terus menebar keutamaan sehingga menjadi teladan bagi para wanita, dan cambuk bagi para pria.
Semoga Allah merahmatinya dan memberikan balasan kebahagiaan yang tiada terkira.

Oleh:Ibnu Syaifuddin

Sumber:
Tahdzibu Tahdzib, Ibnu Hajar Al-Atsqalani
A’lamun Nisa, ‘Umar Ridha Kahalah
Siyar A’lam an-Nubala’: Adz-Dzahabi
Kisah 101 Tabi’in

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *