Belum lama tadi, kita diramaikan dengan sebuah pertandingan akbar antara Khabib Nurmagomedov Vs Conor Mc Gregor. Kita sudah tahu siapa pemenangnya, tapi itu bukan inti dari tulisan ini.
Sedikit mengingat, dalam sebuah pertemuan sebelum pertandingan (konfrensi pers), keduanya adu mulut. Mc Gregor seperti biasa menyerang emosi lawan dengan “sumpah-serapahnya”. Kali ini, dia tahu Khabib seorang yang fanatik dengan  agama. Maka dia pun menyerang Khabib dengan apa yang diyakininya.
 
Khabib yang kalem berusaha tak terpancing emosi. Namun tak bisa, emosi telah membakar di dada. Emosi itu keluar di mulutnya dengan ungkapan “Alhamdulillaah…”. Sepertinya, Khabib mengadopsi sikap Mike Tyson yang tak menyerang dengan kata-kata, namun menyerang dengan pukulannya ketika di arena.
 
Pertarungan akbar itu kemudian digelar dengan jutaan pasang mata menjadi saksinya. Khabib bertarung seperti singa yang lapar. Kekuatan keyakinannya memompanya lebih agresif dibandingkan pertarungan-pertarungan yang pernah dilakukannya. Dia terus memburu, hingga dalam sebuah adegan: Khabib menghajar Mc Gregor dengan pukulan beruntun sembari berkata, “Ayo kita bicara sekarang!”
 
Hampir saja, itu menjadi waktu terakhir. Namun, Mc Gregor bisa bernafas lega, karena bel tanda waktu istirahat telah berbunyi. Yang menarik, Mc Gregor menjawab ajakan bicara Khabib dengan, “Ini hanya soal bisnis”.
 
Khabib tetap tak terima. Dia terus memburu Mc Gregor, hingga mendapatkan kesempatan mematikannya dengan teknik kuncian di leher. Pada saat itu, tak ada pilihan lain Mc Gregor kecuali menyerah.
 
Mendapat kemenangan, gemuruh di dada Khabib semakin menjadi-jadi. Dia menatap muntab pada tim Mc Gregor yang berada di luar pembatas arena.  Emosinya yang telah terpendam lama, hari itu menuntut untuk ditumpahkan. Dengan kepercayaan diri, dia  kemudian meloncat melewati pembatas arena dan menyerang tim Mc Gregor. Situasi pun menjadi gaduh.
 
Khabib menang dengan banyak catatan. Tentu saja dia mendapatkan peringatan dan hukuman atas aksinya. Namun, Khabib merasa apa yang dilakukannya adalah benar, karena dia telah “membela agamanya”.
 
Dari pertarungan hebat itu, kita menangkap percakapan penting yang seharusnya juga menjadi pelajaran penting. Khabib mengira Mc Gregor benar-benar telah melecehkan agamanya. Padahal, Mc Gregor hanya memantik emosi dari Khabib dan pendukungnya agar pagelaran itu menjadi panas, yang tentu saja itu menjadi promosi yang baik bagi MMA, dan banyak dana yang akan mengalir.
 

Mc Gregor tentu saja keterlaluan telah membawa-bawa agama demi mewujudkan keinginannya. Namun, Khabib juga perlu berkaca, bahwa kefanatikan pada agama jangan sampai melupakan akal sehat.

 
Andai Khabib menyadari itu lebih dulu, arena itu bisa menjadi medan dakwahnya. Mc Gregor yang menghina dan dikalahkannya, bisa saja dipeluk untuk menyatakan bahwa Islam bukan agama yang keras, tapi penuh kesantunan. Senyuman sportivitas dalam puncak kemenangan itu akan menjadi pesan moral yang apik, andai berakhir seperti itu.
 
Sayang, pertarungan yang disaksikan jutaan pasang mata itu menambahkan keyakinan orang di luar Islam, bahwa Islam adalah agama sensitif. Keras pada mereka yang menghina, padahal penghinanya belum tentu tahu Islam itu seperti apa.
 
Maka kita kembali teringat dengan sosok pembawa Islam yang dilempari batu ketika di Thaif. Beliau ditawari Jibril perlawanan yang dahsyat, berupa Gunung yang akan ditimpakan pada orang yang telah melukainya. Tapi tawaran itu ditolak, beliau tahu mereka yang melukainya belum tahu seperti apa agama yang beliau bawa. Beliau kemudian mendoakan mereka.
 
Dan di penghujung khotbah ini (he he), saya mewasiatkan kepada saya pribadi dan pembaca sekalian, bahwa iman mesti dijaga dengan baik. Jangan sampai iman kita ditunggangi oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan terselubung. Apalagi jika dibenturkan dengan sesama Islam. (*)
Oleh: Muhammad Bulkini

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *