Karomah Habib Sholeh Tanggul, Mengetahui Hajat Orang yang Memandang Fotonya

Muhibbin.Net, BANJARMASIN – Banyak orang yang meyakini Habib Sholeh Al Hamid atau Habib Sholeh Tanggul sebagai seorang aulia Allah. Karena itu,  para pecintanya kerap memajang foto sang ulama di dinding rumah, sebagai wasilah menuai berkah dari Allah SWT.

Putra Habib Sholeh Tanggul, Habib Muhammad bercerita, dulu ada pecinta beliau di daerah Ampel Surabaya. Kala itu, dia sangat membutuhkan biaya besar untuk kebutuhan keluarganya.

Di rumahnya terpajang foto Habib Sholeh Tanggul. Setiap ia melihat foto tersebut, ia selalu bermohon kepada Allah, dengan berkah Habib Sholeh, semoga ia mendapatkan uang yang ia butuhkan. Dia selalu melakukan hal itu berkali-kali.

Sampai pada akhirnya, beberapa pejabat pemerintah utusan Adam Malik (Mantan Wakil Presiden) datang bertamu ke kediaman Habib Sholeh. Mereka datang membawa hadiah berupa uang untuk Habib Sholeh dengan jumlah yang banyak.

Baca juga: Habib Sholeh Tanggul Dijamu Kambing dari ‘Ahli Kubur’

Habib Sholeh kemudian berkata kepada mereka, “Coba ambil uang yang kalian bawa sejumlah sekian juta, dan serahkan uang itu kepada fulan yang rumahnya di daerah Ampel Surabaya. Bilang ini dari Habib Sholeh Tanggul atas karunia yang Allah berikan untuknya. Hanya itu saja. Selebihnya kalian bawa kembali.”

Habib Sholeh kemudian meminta kepada putranya, yakni Habib Muhammad untuk menulis alamat rumah orang yang dimaksud lengkap dengan surat (pesan) kepada orang tersebut.

Tak lama kemudian, mereka berangkat menemui orang itu dan menyerahkan hadiah Habib Sholeh kepadanya. Seketika orang tersebut jatuh tersungkur sambil berucap, “Alhamdulillah, barakah cucu Rasulullah.”

Orang itu pun kemudian membuka surat dari Habib Sholeh. Isinya cukup mengejutkan, “Uang ini yang kau butuhkan sebagaimana permintaanmu kepada Allah di saat memandang gambarku.”

Sumber: Cuplikan ceramah Habib Abubakar bin Abdul Qadir Mauladdawilah dalam rauhah Haul Habib Sholeh Tanggul .

Kisah Syekh Ali Al Bayanuni, Jenazahnya Utuh Berkat Sholawat

Muhibbin.Net, BANJARMASIN– Syekh Ali bin Hasan bin Bakri bin Ahmad Al-Bayanuni Al-Halabi adalah seorang ulama Syafi’iyah yang sangat besar kecintaannya kepada Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dan Ahlubait-nya. Beliau bergelar Maddah Ar-Rasul karena banyaknya menyusun Sholawat dan Qasidah untuk memuji Rasulullah dan Ahlubait.

Syekh Ali lahir tahun 1290 H di Bayanun, sebuah desa di Allepo, Suriah. Beliau juga memiliki anak yang menjadi ulama besar, yakni Syekh Ahmad As-Sayyad yang oleh ulama-ulama negeri Syam yang bergelar Izzuddin (Kemuliaan Agama).

Setiap akan melaksanakan ibadah Haji, Syekh Ali  terlebih dahulu mengunjungi Madinah. Beliau tinggal di sana beberapa waktu sambil banyak-banyak bersholawat kepada Rasulullah, dan membagi-bagikan uang kepada fakir miskin. Setelah itu baru pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji.

Tapi hal berbeda terjadi pada musim Haji tahun 1362 H, di mana saat itu beliau tidak memulai kunjungannya ke Madinah, namun langsung menuju Makkah dan bertamu ke rumah Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, ayah dari Sayyid Muhammad Al-Maliki.

Kebetulan di rumah Sayyid Alwi sedang ada halaqah untuk membahas suatu hal yang rumit dalam ilmu tasawuf, dan hal tersebut baru terbuka setelah Syekh Ali menjelaskan perkara itu. Sayyid Alwi kemudian bertanya dari mana beliau mendapatkan ilmu tersebut.

Syekh Ali menjawab, “Dari manuskrip kuno yang aku miliki.”

Sayyid Alwi berkata, “Bisakah Syekh membawakan manuskrip tersebut pada tahun haji depan, agar kami bisa sama-sama mendapatkan manfaatnya.”

Syekh Ali hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.

Beliau lalu berkata, “Wahai Sayyid, tahun ini aku tidak akan kembali ke negaraku. Rasulullah telah menyiapkan tempat terbaik untukku di sisinya. Oleh sebab itulah tahun ini aku pergi dulu ke Makkah sebelum ke Madinah.”

Saat itu Syeikh Ali sebetulnya dalam keadaan sehat. Namun setelah ibadah Haji selesai, beliau mendadak sakit. Sesuai permintaannya, Sayyid Alwi lalu membawa Syekh Ali ke rumah sakit di Madinah. Di sana beliau akhirnya wafat setelah dirawat selama tiga hari. Jenazahnya dimakamkan di Baqi.

Baca juga: Syekh Sayyid Alwi Al Maliki, di Umur 20-an Sudah Mengajar di Masjidil Haram

Seperti yang lazim terjadi di Baqi, di mana makam lama akan dibongkar untuk ditimbun dengan jenazah baru, makam beliau pun mendapat giliran pembongkaran pada tahun ke-4 dimakamkan.

Namun hal aneh terjadi, jasad beliau yang telah terkubur selama empat tahun masih utuh seperti baru meninggal. Pihak Askar pun urung membongkar makam beliau. Empat tahun kemudian, askar kembali membongkar makam itu. Namun lagi-lagi jasad beliau masih utuh.

Akhirnya pihak Askar memutuskan untuk tidak lagi membongkar makam beliau, dan memberi tanda “Syekh Syami” pada batunya. Demikianlah keadaan orang yang gemar bersholawat, memuji dan merindukan Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam.

Sumber kisah dari mukaddimah kitab Imdadul Fattah hal. 2 karya Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah.

Baca juga: Mengenang Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi (3), Qutbul Gaus di Zamannya

Sumber: Ig Tobuk Darkah

Cerita Habib Kuncung Timpuk Kepala Anak Bangsawan Belanda

Muhibbin.net, MARTAPURA – Habib Kuncung  pernah menimpuk kepala anak seorang bangsawan Belanda. Namun ternyata ada hikmah di baliknya. Sayangnya, si Bangsawan itu tak mengerti maksud dan tujuan sang ulama.

Kejadian ini terdapat dalam Buku Pedoman Ziarah Majelis Darussyakirin, Pimpinan Abuya KH. Syukeri Unus.

Sebagaimana diceritakan dalam buku tersebut, sebelum ke Indonesia ulama  bernama lengkap Habib Ahmad bin Alwi Al Haddad itu pernah menginjakkan kaki ke negeri Belanda. Suatu hari, beliau menimpuk kepala seorang anak Bangsawan Belanda.

Kepala anak tersebut pun bocor dan mengeluarkan banyak darah. Habib bermaksud membuat anak tersebut terlepas dari musibah yang akan menimpanya. Habib mengetahui bahwa anak itu bisa selamat dengan memukul kepalanya. Namun, tujuan baik Habib tidak dimengerti oleh ayah dari anak tersebut. Dia marah kepada Habib Kuncung dan meminta ganti rugi.

Habib Kuncung  kemudian menjelaskan maksudnya memukul kepala anaknya, namun Bangsawan Belanda itu tetap tak terima.

Habib kemudian menunjukkan karomahnya. Beliau mengusap kepala anak itu, dan seketika dia sembuh seperti semula. Namun, tidak berselang lama, musibah yang dimaksud Habib Kuncung mengenai anak itu.

Hujan turun sangat deras dan mengeluarkan petir. Petir tersebut menyambar anak bangsawan tersebut, dan meninggal dunia.

Sang Ayah hanya bisa menyesal setelah musibah itu menimpa anaknya.

Itulah sebagian kisah dari kasih sayang dan perhatian Habib Ahmad bin Alwi Al-Haddad.

Habib Kuncung adalah seorang Wali Allah. Beliau lahir di Gurfha, Hadramaut, Tarim pada 26 Syaban 1254 H.

Guru dari Habib Kuncung antara lain Habib Ali bin Husain al-Hadar, Habib Abdur Rahman bin Abdullah al-Habsyi, dan Habib Abdullah bin Muhsin al-Athas (Habib Keramat Empang, Bogor).

Makam beliau yang berada di Kalibata Jakarta Selatan menjadi tujuan banyak peziarah. peziarah yang datang tidak hanya dari Jakarta, melainkan dari berbagai penjuru Indonesia.

Reporter : Anwar

Editor: Ibnu Syaifuddin

Mukjizat Rasulullah SAW, Menyembuhkan Luka yang Terbakar

Muhibbin.net, MARTAPURA – Rasulullah SAW banyak dianugerahi mukjizat oleh Allah SWT, di antaranya menyembuhkan seseorang yang kulitnya luka karena terbakar.

Mukjizat merupakan perkara di luar kebiasaan. Allah memberikan keistimewan tersebut kepada para Nabi dan Rasul-Nya. Mukjizat adalah salah satu bukti kebenaran kenabian dan keabsahan risalah yang mereka bawa.

Banyak ayat Al-Qur’an yang menceritakan mukjizat nabi-nabi terdahulu, seperti Nabi Ibrahim AS yang terselamatkan dari kobaran api hingga Nabi Daud yang dapat menghentikan burung hanya dengan kemerduan suaranya.

Allah memberikan keistimewaan kepada Rasulullah SAW, berupa mukjizat sebagaimana yang Allah telah memberikan pada Nabi dan Rasul yang terdahulu.

Dalam Kitab Maroh Labid karya Syekh Muhammad Nawawi Al Bantani, Abdullah bin Hatib menceritakan pengalamannya.

“Saat aku kecil pernah kejatuhan panci yang dipanaskan dengan api yang besar. Seketika terbakarlah seluruh kulitku. Melihat apa yang  menimpa kepadaku, ibu membawaku kepada Nabi SAW sembari berkata: Wahai Rasul SAW ini anak Hatib telah terbakar kulitnya, sebagaimana bisa Engkau lihat. Lalu Nabi SAW meludahi kulitku dan menyapu dengan kelembutan tangannya pada luka bakarku. Seketika aku sembuh tanpa ada menyisakan rasa sakit.”

Ulama mengatakan, mukjizat Nabi Muhammad SAW ini jauh melebihi mukjizat Nabi Ibrahim yang selamat dari kobaran api setelah Allah merubah api menjadi dingin dan memberikan keselamatan kepada Nabi Ibrahim.

Reporter: Ahmad

Editor: Ibnu Syaifuddin

Indahnya Akhlak Abuya Maliki Ketika Difitnah

Muhibbin.net, MARTAPURA –  Abuya Maliki atau Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki pernah mendapat fitnah yang keji. Alih-alih membalasnya dengan perbuatan serupa, beliau malah menunjukkan akhlak yang mempesona.

Dr. Abdul Qadir As-Sindi (seorang Wahabi) pernah menulis sebuah artikel berisi hinaan, kecaman, dan fitnah keji pada Abuya Maliki di majalah Al-Jami’ah Al-Madinah Al-Munawwarah. Banyak kalangan yang geram dengan ulah Doktor tersebut.

Singkat cerita, Abuya Maliki  mengetahui perihal fitnah tersebut. Beliau  mengajak murid-muridnya untuk pergi ke Madinah, menuju rumah Dr. As-Sindi. Sesampainya di sana, beliau  menyerahkan sejumlah uang sebagai hadiah ke padanya.

Saat memberikan hadiah, Abuya  Maliki tidak mengenalkan siapa dirinya. Mendapat kejutan itu, Dr. As-Sindi pun mengira orang yang telah memberinya adalah Abuya Maliki, orang yang beberapa waktu silam ia hina habis-habisan dalam artikel yang ditulisnya.

Dr. As-Sindi pun mengejar Abuya, merangkulnya, menciuminya dan berkata, “Tuan tentu Sayyid Muhammad Al-Maliki, kini saya yakin sepenuh hati bahwa Tuan adalah keturunan Rasulullah, sebab tidak ada yang membalas cacian dan hinaan dengan hadiah, kecuali ia adalah keturunan Rasulullah. Saya tidak meragukan lagi keagungan pribadi anda wahai Sayyidi,” ucap Dr. As-Sandi.

Di saat bersamaan Dr. As-Sindi menangis sejadinya menyesali perbuatannya dengan memohon maaf kepada ulama besar tersebut. Abuya pun memafkannya.

Begitulah indahnya akhlak cucu Rasulullah ﷺ yang satu ini. Beliau mampu menunjukkan keindahan akhlak saat mendapat fitnah yang keji.

Siapa Ulama Ini?

Abuya Maliki adalah seorang ulama besar kota Makkah, kelahiran tahun 1365 H / 1945 M.

Di zamannya, beliau menjadi rujukan para penuntut ilmu di dunia. Dari Indonesia pun tak sedikit yang menimba ilmu kepadanya.

Anak Sayyid Alawi ini memiliki perhatian khusus dengan Indonesia. Beliau tercatat beberapa kali mengunjungi negeri kepulauan ini.

Ulama ini wafat pada Jumat, 15 Ramadhan 1425 H, bertepatan dengan tanggal 29 Oktober 2004 M. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman al-Ma’la tak jauh dari makam istri Rasulallah SAW.

Reporter: Ahmad

Editor: Ibnu Syaifuddin

Tolak Pemindahan Maqam Nabi Ibrahim, Ulama Ini Diberi Anugerah Bertemu Sang Nabi

Muhibbin.net, – Pada tahun 1954, Pemerintahan Arab Saudi ingin memindah maqam Nabi Ibrahim AS. Protes datang dari salah satu ulama besar Mesir masa itu, Syekh Mutawalli As Sya’rawy.

Para Mufti Arab Saudi sebelumnya sudah sepakat dengan keputusan pemindahan Maqam tersebut. Sehingga, keputusan hanya menunggu eksekusi tim lapangan.

Syekh Sya’rawy saat itu menjabat sebagai dosen Kuliyah Syari’ah di Makkah Al-Mukarramah. Setelah mendengar kabar tersebut, beliau bergegas melakukan konfirmasi kepada para ulama Saudi.

Lima hari sebelum eksekusi, Syekh Sya’rawy menghubungi Syeikh Ibrahim Al-Noury dan Syeikh Ishaq Azzouz untuk menyampaikan alasan penolakannya pada sang raja.

Syekh Sya’rawy kemudian melayangkan protes melalui surat. Surat yang berjumlah 5 lembar tersebut berisi alasan fiqh dan sejarah yang merujuk pada Alqur’an dan Hadits.

Sehari kemudian, surat itu sampai  ke tangan Raja, Ibnu Saud. Setelah membaca dengan seksama, Raja kemudian menggelar pertemuan dengan para ulama Saudi. Keputusannya adalah membatalkan pemindahan maqam Nabi Ibrahim tersebut.

Buah dari upaya penolakan itu, Syekh Sya’rawy mendapat undangan dari sang Raja. Raja pun memberikan penghormatan kepada ulama tersebut dengan memberinya sejumlah hadiah.

Namun, bukan itu yang istimewa dari usaha beliau menolak pemindahan Maqam tersebut. Dua hari berselang, setelah pemindahan itu batal, Syekh Sya’rawi diberi anugerah oleh Allah SWT berupa pertemuan dengan Nabi Ibrahim AS. Pada pertemuan itu, Nabi Ibrahim mengucapkan terimakasih pada ulama tersebut.

sumber: Sindonews.com

Editor: Ibnu Syaifuddin

Tak Banyak yang Tahu, Ini Cerita Mistis di Balik Penamaan Majelis Mufti Ahmad

Muhibbin.net, MARTAPURA – Majelis yang diasuh Tuan Guru KH. Ahmad Mulkani bernama Majelis Mufti Ahmad. Guru Mulkani beralasan bahwa penamaan majelis tersebut untuk mendapat keberkahan dari sang aulia Allah. Padahal, ada sisi mistis yang mengiringinya.

Salah seorang jamaah pengajian yang tak ingin namanya disebutkan menceritakan, penamaan Majelis Mufti Ahmad di antaranya bersebab satu kejadian menarik.

Suatu ketika ada seorang yang melihat sesosok makhluk gaib yang mengaku bernama Mufti Ahmad. Sosok gaib tersebut menuturkan, Beliau tidak ingin jika jamaah merokok di dalam rumah.

“Itulah sebabnya, jamaah memilih merokok di luar rumah setelah majelis. Cerita ini masyhur di majelis ini,” kata orang tersebut.

Tak lama kemudian, sekitar beberapa pekan, sosok gaib tersebut kembali bertamu. Pada pertemuan kali ini, sosok itu meminta majelis tersebut bernama dengan nama Mufti Ahmad.

Selain cerita mistis tersebut, Guru Mulkani sebenarnya terikat kekerabatan dengan Mufti Ahmad (Pangeran). Guru Mulkani adalah putra dari H. Muhammad Yusran bin H. Nasrun bin Nadzir bin Salman bin Abdullah bin Mufti H Muhammad Khatib bin Mufti H. Ahmad bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

Para pecinta ilmu di Kota Banjarmasin pun mulai menggemari majelis tersebut.

Majelis Mufti Ahmad beralamat di Jl. Sultan Adam, Komplek Graha Lestari jalur 5 No. 10.

Editor: Ibnu Syaifuddin

Abuya Maliki Ceritakan Korupsi di Pemerintahan Turki Utsmani

muhibbin.net, BANJARMASIN – Korupsi tidak mengenal sistem pemerintahan. Kekhalifahan Turki Utsmani pun tak luput dari bersarangnya oknum-oknum korup di dalamnya.

Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki (Abuya Maliki) pernah menceritakan peristiwa korupsi di Pemerintahan Turki Utsmani (Ottoman). Namun, beliau tidak menyebutkan raja siapa yang berkuasa waktu itu, namun yang jelas, Turki Utsmani berkuasa selama 564 tahun lamanya, yakni dari tahun 656 H – 1220 H.

Dinasti ini menguasai seperempat dunia, dari Turki, Jazirah Arab hingga sebagian dari belahan Asia.

Pada suatu ketika, kata Abuya Maliki, Gubernur Madinah mengirim utusan ke Turki. Utusan tersebut membawa sepucuk surat berisi permintaan dana sebesar 200 ribu dinar (uang emas) dan pasokan minyak tanah sebesar 2 ribu liter. Dana tersebut untuk penerangan Masjid Nabawi Al Munawwaroh selama beberapa bulan ke depan.

Baca juga: Indahnya Akhlak Abuya Maliki Ketika Difitnah

Setelah utusan sampai ke Turki dan surat pun selesai dibaca, Sang Khalifah memerintahkan kepada stafnya agar menyiapkan apa permintaan Gubernur. Anehnya, Khalifah itu menambahkan dua kali lipat dari yang permintaan Gubernur, lalu jumlah itu ia tuliskan dalam surat perintah. Si Gubernur benar-benar kaget dengan kemurahan hati Sang Khalifah.

Setelah beberapa hari, maka tibalah amanah yang dari sang Khalifah. Namun Gubernur kaget, karena ia hanya mendapatkan 200 ribu dinar + 2 ribu liter minyak tanah. Sedangkan yang tertera di dalam surat perintah adalah 400 ribu dinar dan 4 ribu liter minyak tanah.

Setelah hal itu ditanyakan kepada Sang Khalifah, Sang Khalifah pun menjawab …(Baca Selengkapnya)